Pangandaran, JMN — Lonjakan wisatawan di Pantai Barat Pangandaran pada hari ketiga libur Lebaran 2026 atau H+2 memicu persoalan serius di lapangan.
Ratusan anak dilaporkan terpisah dari orang tua mereka di tengah kepadatan pengunjung yang mencapai puluhan ribu orang.
Pantai yang menjadi magnet utama wisata di Kabupaten Pangandaran itu berubah menjadi lautan manusia sejak pagi.
Kepadatan tak hanya terjadi di area parkir dan pintu masuk, tetapi juga hingga ke bibir pantai. Dalam situasi itu, petugas Balawista mencatat lebih dari seratus anak di bawah umur sempat tersesat.
Petugas Balawista, Omen, mengatakan sebagian besar anak ditemukan dalam kondisi menangis di sekitar garis pantai. Mereka kebingungan dan berupaya mencari orang tuanya di tengah kerumunan.
“Kebanyakan kami temukan sedang menangis di bibir pantai karena terpisah dari keluarga,” kata Omen kepada jurnalmedianetwork, Senin 23 Maret 2026.
Ia menilai, faktor utama kejadian tersebut adalah lemahnya pengawasan dari orang tua. Menurut dia, kondisi pantai yang sangat padat membuat anak-anak mudah terpisah jika tidak diawasi secara ketat.
“Pengunjung membludak, jadi pengawasan harus ekstra,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Pangandaran, Jalaludin, yang turut memantau kondisi di lapangan, mengimbau wisatawan untuk mematuhi arahan petugas. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi orang tua yang membawa anak.
“Ikuti instruksi petugas demi keselamatan bersama,” kata dia.
Imbauan serupa juga disampaikan kepada wisatawan yang berkunjung ke sejumlah titik lain seperti Pantai Karapyak, Batu Hiu, Batu Karas, hingga Madasari.
Jalaludin menegaskan, keselamatan pengunjung menjadi tanggung jawab bersama antara petugas dan wisatawan.
Di tempat yang sama, salah satu orang tua, Pepen, mengakui kelalaiannya saat anaknya sempat terpisah di kawasan pantai. Ia mengaku panik dan langsung melakukan pencarian bersama keluarga.
“Itu kelalaian saya. Kami sempat panik, tapi alhamdulillah anak kami ditemukan petugas,” akunya sambil menangis.
Meski seluruh anak yang sempat tersesat berhasil ditemukan dan dikembalikan kepada orang tuanya, peristiwa ini menjadi catatan penting bagi pengelolaan wisata saat musim liburan.
Petugas kembali mengingatkan agar orang tua tidak lengah, terutama di tengah lonjakan pengunjung yang sulit dikendalikan. (Ntang.SR)






