JurnalMediaNetwork – Rasa lelah umumnya akan mereda setelah tubuh beristirahat atau tidur. Namun dalam sejumlah kasus, keluhan tersebut justru bertahan, bahkan muncul kembali meski waktu istirahat sudah terpenuhi. Kondisi ini patut diwaspadai karena bisa menjadi penanda adanya gangguan kesehatan.
Secara fisiologis, kelelahan merupakan respons alami tubuh ketika energi terkuras akibat aktivitas fisik maupun mental. Dalam kondisi normal, tubuh akan kembali bugar setelah beristirahat. Akan tetapi, kelelahan yang berlangsung terus-menerus dapat mengindikasikan masalah medis tertentu.
Sejumlah sumber medis menyebutkan, ada beberapa penyakit yang kerap memicu tubuh mudah lelah meski sudah cukup tidur.
Anemia, misalnya, menjadi salah satu penyebab paling umum. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat, biasanya akibat defisiensi zat besi. Dampaknya, distribusi oksigen ke jaringan tubuh terganggu sehingga memicu rasa lemah, pucat, hingga pusing dan sesak napas ringan.
Selain itu, gagal jantung juga dapat ditandai dengan kelelahan berkepanjangan. Pada kondisi ini, jantung tidak mampu memompa darah secara optimal. Pada tahap awal, keluhan muncul saat beraktivitas, namun dalam kondisi lanjut bisa dirasakan bahkan saat istirahat.
Gangguan tidur seperti sleep apnea juga berperan. Penderita kerap mengalami henti napas sementara saat tidur, sehingga kualitas tidur menurun. Akibatnya, tubuh tetap terasa lelah di pagi hari meski durasi tidur cukup.
Kondisi lain adalah sindrom kelelahan kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS), yakni gangguan medis yang ditandai kelelahan ekstrem dalam jangka panjang. Keluhan ini tidak membaik dengan istirahat dan sering disertai gangguan tidur, nyeri otot, serta kesulitan konsentrasi.
Di sisi lain, diabetes juga kerap menyebabkan tubuh cepat lelah. Tingginya kadar gula darah membuat tubuh tidak mampu mengolah glukosa menjadi energi secara efektif. Gejala lain yang menyertai antara lain sering haus, sering buang air kecil, serta penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
Gangguan kelenjar tiroid pun tidak kalah penting untuk diperhatikan. Ketidakseimbangan hormon tiroid dapat mengganggu metabolisme tubuh, memicu kelelahan, perubahan berat badan, hingga jantung berdebar.
Tak hanya faktor fisik, kesehatan mental juga berpengaruh. Depresi dan gangguan kecemasan dapat membuat seseorang merasa lesu sepanjang hari, kehilangan minat beraktivitas, serta mengalami gangguan pola tidur.
Adapun demam kelenjar atau mononukleosis, yang disebabkan infeksi virus Epstein-Barr, juga ditandai dengan kelelahan berkepanjangan. Penyakit ini umumnya disertai demam, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Dokter menyarankan agar kelelahan yang tidak kunjung membaik tidak diabaikan. Perubahan gaya hidup seperti tidur cukup, pola makan seimbang, olahraga rutin, serta pengelolaan stres dapat menjadi langkah awal.
Namun, apabila keluhan tetap berlangsung, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti. Deteksi dini dinilai penting guna mencegah komplikasi yang lebih serius.
Kelelahan yang terus-menerus bukan sekadar masalah ringan. Dalam banyak kasus, kondisi ini menjadi sinyal awal tubuh terhadap gangguan kesehatan yang lebih serius. (*)





