Banjar, JurnalMediaNetwork — Dentuman musik rock metal membuka suasana nonton bareng pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta di Aula Graha Banjar Idaman (GBI), Minggu sore. Hentakan drum cepat, suara gitar yang keras, dan aksi para penampil di atas panggung langsung memanaskan atmosfer bahkan sebelum laga dimulai.
Ribuan penonton memadati aula. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan pertandingan klasik Persib kontra Persija, tetapi juga menikmati kebersamaan di tengah rivalitas sepak bola yang selama ini identik dengan tensi tinggi.
Kegiatan bertajuk “Nobar Damai Persija vs Persib” itu digelar Kementerian Agama Kota Banjar bersama Viking Banjar Patroman dan GP Ansor Kota Banjar. Acara tersebut menghadirkan suasana yang berbeda di tengah kerasnya persaingan dua klub besar tanah air.
Sekitar seribuan bobotoh memenuhi area GBI. Mayoritas merupakan kalangan muda yang datang mengenakan atribut biru kebanggaan Persib. Nyanyian dukungan menggema sepanjang pertandingan berlangsung. Para supporter bernyanyi bersama, melompat serempak, hingga meneriakkan nama Persib dengan suara yang memantul di seluruh ruangan.
Setiap peluang emas Persib disambut teriakan keras. Ketika tekanan datang dari lawan, dukungan justru semakin membahana. Namun euforia itu tidak berubah menjadi permusuhan. Penonton tetap menjaga suasana hangat dan tertib selama acara berlangsung.
Di sela pertandingan, sejumlah penonton tampak saling bercengkerama dan tertawa bersama. Rivalitas yang biasanya terasa panas di media sosial justru berubah menjadi ruang silaturahmi di dalam aula.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Banjar Supriana, Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro, Sekretaris Daerah Kota Banjar Soni Harison, unsur Forkopimda, GP Ansor, Banser, Viking Banjar Patroman, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjar Ahmad Fikri Firdaus mengatakan sepak bola seharusnya menjadi ruang persaudaraan, bukan arena permusuhan.
“Ini bukan hanya tentang pertandingan sepak bola, tetapi tentang bagaimana menjaga persaudaraan di tengah perbedaan,” kata Fikri.
Pernyataan itu terasa kontras dengan dentuman musik keras dan panasnya atmosfer pertandingan. Namun justru di situlah pesan utama kegiatan tersebut. Rivalitas boleh hidup di lapangan, tetapi hubungan antarmanusia tetap harus dijaga.
Saat peluit panjang dibunyikan, Persib Bandung memastikan kemenangan 2-1 atas Persija Jakarta. Aula GBI langsung bergemuruh oleh selebrasi ribuan bobotoh. Lagu kemenangan dinyanyikan bersama, tangan saling merangkul, dan bendera Persib dikibarkan tinggi.
Meski dipenuhi euforia, perayaan berlangsung tertib tanpa kericuhan. Kemenangan dirayakan tanpa kehilangan rasa hormat kepada sesama supporter maupun masyarakat yang hadir.
Melalui kegiatan itu, Kota Banjar menunjukkan bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak selalu identik dengan permusuhan. Di tengah rivalitas yang kerap memanas, ruang kebersamaan masih bisa tumbuh dan dirawat bersama. (Ucup)






