Berita  

Eks Bupati Pangandaran Jeje Pilih Rawat Ekonomi Pesisir

Eks Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata bersama istri Ida Nurlaela Wiradinata yang juga Anggota DPR RI. Foto: Agus Giantoro/JMN

Pangandaran, JMN — Setahun selepas tak lagi menjabat sebagai Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata memilih tetap berada di lingkaran isu yang lama ia geluti, pesisir dan nelayan. Ia kini menaruh perhatian pada penguatan sektor perikanan melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari.

Dalam percakapan dengan wartawan, Rabu, 18 Maret 2026, Jeje mengatakan tengah berupaya “mengaktualisasikan diri” dengan memaksimalkan pengalaman yang dimilikinya.

Fokusnya tertuju pada aktivitas di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), simpul utama perputaran ekonomi nelayan.

Sejumlah pengamatan ia lakukan dalam beberapa bulan terakhir. Menurut dia, meski belum memasuki musim panen ikan,

transaksi di TPI tetap bergerak. Nilainya menembus lebih dari Rp1,8 miliar per bulan.

Baca Juga :  Parkir Dipusatkan, Akses Pantai Pangandaran Dibatasi

“Ini menunjukkan roda ekonomi nelayan tetap berjalan,” ujar Jeje.

Ia menilai, tingginya jumlah pembeli turut mendorong harga ikan menjadi lebih kompetitif. Kondisi itu, dalam pandangannya, memberi keuntungan bagi nelayan dan meningkatkan minat mereka untuk melaut.

“Di sisi lain, pentingnya penguatan kelembagaan koperasi. KUD berperan menjaga stabilitas usaha nelayan sekaligus menopang keberlanjutan ekonomi pesisir,” ungkapnya.

Ia juga menyinggung dinamika politik lokal yang dinilainya kian sehat. Pemisahan peran antara pemerintah daerah dan partai politik, menurut dia, membuat fungsi masing-masing berjalan lebih efektif.

Di luar urusan publik, Jeje berbicara soal nilai kemandirian dalam keluarga. Ia mendorong generasi muda, termasuk anak-anaknya, untuk berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Bagi Jeje, kembali ke masyarakat bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Baca Juga :  Meriah! Pesta Swara Vol.2 Jadi Ajang Kolaborasi Seni dan Silaturahmi di Banjar

“Yang penting memberi dampak nyata,” tukasnya. (Agus Giantoro)