Banjar, JurnalMediaNetwork – Mengantisipasi ancaman kekeringan yang kerap melanda lahan pertanian, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Banjar, Abdul Kholik Ibrahim, mendorong pemerintah daerah mulai mempertimbangkan penggunaan energi terbarukan berupa solar cell untuk mendukung sistem irigasi pertanian.
Menurut Abdul Kholik, selama ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membantu petani menghadapi persoalan kekeringan, mulai dari perbaikan jaringan irigasi, pembangunan atau perbaikan irigasi tersier, hingga pengadaan pompa air yang menggunakan energi listrik maupun bahan bakar.
Namun, ia menilai masih ada pendekatan lain yang perlu dikembangkan, yakni pemanfaatan energi matahari sebagai sumber tenaga untuk mengoperasikan pompa air.
“Menurut hemat kami, di samping kegiatan-kegiatan yang sudah rutin dilaksanakan pemerintah, seperti perbaikan irigasi, pembangunan irigasi tersier dan pengadaan pompa yang menggunakan listrik PLN, ada satu pendekatan lagi yang perlu kita pikirkan, yaitu energi terbarukan,” ujar Abdul Kholik.
Ia menjelaskan, energi matahari memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam sektor pertanian. Selama sinar matahari tersedia, panel surya dapat menghasilkan energi yang kemudian digunakan untuk menggerakkan pompa air.
Dengan konsep tersebut, petani di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air maupun berada di kawasan tadah hujan dapat memperoleh alternatif pengairan tanpa terlalu bergantung pada biaya listrik maupun bahan bakar minyak (BBM).
Abdul Kholik bahkan memiliki pengalaman melihat langsung penerapan sistem tersebut di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Pada akhir 2004, pihaknya pernah membawa sejumlah petani dari Kota Banjar untuk melakukan studi banding ke wilayah tersebut.
Di sana, kata dia, penggunaan sistem irigasi berbasis solar cell mampu mengubah pola pertanian masyarakat. Lahan yang sebelumnya hanya dapat ditanami dan dipanen satu kali dalam setahun, setelah mendapatkan dukungan irigasi dengan tenaga surya, dapat ditingkatkan menjadi tiga kali panen dalam setahun.
“Di sana terbukti, daerah tadah hujan yang tadinya cuma setahun sekali, setelah masuk irigasi menggunakan solar cell, itu bisa panen tiga kali,” katanya.
Menurut Abdul Kholik, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Kota Banjar, terutama untuk mengembangkan sistem irigasi di wilayah pertanian yang selama ini bergantung pada curah hujan.
Ia berharap pemerintah tidak hanya membangun jaringan irigasi konvensional, tetapi mulai mencoba mengembangkan irigasi dengan memanfaatkan energi terbarukan.
“Harapannya pemerintah Kota Banjar ketika pendekatannya untuk meningkatkan penghasilan petani melalui irigasi, bukan hanya yang dibangun itu irigasi-irigasi yang biasa, tapi mencoba irigasi untuk daerah-daerah tadah hujan menggunakan energi terbarukan, yaitu solar cell,” ujarnya.
Minim Biaya Operasional
Abdul Kholik menilai salah satu keunggulan penggunaan solar cell adalah minimnya biaya operasional setelah sistem terpasang. Biaya yang diperlukan lebih banyak berkaitan dengan pemeliharaan perangkat, termasuk menjaga kebersihan panel surya.
“Kenapa solar cell? Ketika sudah dipasang, tidak menggunakan lagi biaya yang besar. Paling biaya pemeliharaan untuk membersihkan solar cell. Selama matahari ada, energinya akan terus ada,” jelasnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan penggunaan pompa berbahan bakar BBM. Ketika musim kemarau dan kebutuhan air meningkat, petani harus menyediakan biaya tambahan untuk membeli bahan bakar. Begitu pula dengan pompa yang menggunakan listrik PLN, terdapat biaya listrik yang harus ditanggung.
Menurutnya, persoalan biaya operasional sering menjadi kendala di lapangan. Bantuan pompa dari pemerintah memang dapat membantu petani mendapatkan air, tetapi ketika tidak tersedia anggaran untuk membeli BBM, pompa tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Biasanya kejadian di lapangan ketika kekeringan, pompa yang diberikan oleh pemerintah ada, masalahnya muncul tidak ada biaya untuk BBM. Sedangkan BBM harganya fluktuatif,” katanya.
Karena itu, ia menilai solar cell dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Sistem tersebut, lanjut Abdul Kholik, juga tidak harus selalu diterapkan pada sumur bor. Sumber air dapat berasal dari sumur bor maupun sumber air lainnya, kemudian dialirkan menggunakan pompa yang digerakkan oleh tenaga surya.
Ia menyebut teknologi solar cell untuk kebutuhan pertanian saat ini juga semakin berkembang. Selain sistem yang dipasang secara permanen atau statis, terdapat pula sistem yang dapat dipindahkan atau mobile sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Abdul Kholik berharap gagasan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah Kota Banjar dalam menyusun kebijakan dan program pertanian ke depan.
Menurutnya, pengembangan irigasi berbasis energi terbarukan bukan hanya berkaitan dengan mengatasi kekeringan, tetapi juga berpotensi meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
“Kalau irigasinya tersedia, petani tidak hanya mengandalkan hujan. Harapannya produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani juga ikut meningkat,” pungkasnya. (Ucup)






