Banjar, JurnalMediaNetwork – Pemerintah Kota Banjar memperkuat ketahanan keluarga sebagai salah satu upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Penguatan dilakukan dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang terlibat dalam penanganan, pendampingan, serta perlindungan keluarga rentan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Manajemen Kasus Penanganan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak untuk Penguatan Ketahanan Keluarga Kota Banjar Tahun 2026, yang digelar di Aula Hotel Mandiri, Kamis (10/9/2026).
Kegiatan dibuka Wali Kota Banjar, Sudarsono dan diikuti unsur Dinas Sosial P3A, psikolog, akademisi, guru BK tingkat SMP, pekerja sosial, pekerja sosial masyarakat, LKS, serta pendamping PKH.
Sudarsono mengatakan keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sejahtera, aman dan berkualitas. Keluarga menjadi tempat pertama bagi setiap individu untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, pembentukan karakter dan dukungan dalam menghadapi berbagai persoalan.
Namun, kata dia, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Tekanan ekonomi, pola pengasuhan, komunikasi, konflik rumah tangga, kekerasan, persoalan anak, perkembangan teknologi dan lingkungan sosial dapat memengaruhi ketahanan keluarga.
“Penguatan ketahanan keluarga tidak dapat dilakukan hanya ketika permasalahan sudah terjadi. Kita perlu membangun sistem yang mampu melakukan pencegahan, deteksi dini, penanganan, pendampingan, dan tindak lanjut secara terpadu,” ujar Sudarsono.
Menurutnya, manajemen kasus memiliki peran strategis karena persoalan yang terjadi dalam keluarga sering kali saling berkaitan. Oleh sebab itu, penanganan harus dilakukan secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah, asesmen kebutuhan, penyusunan rencana intervensi, pemberian layanan, koordinasi dan rujukan, hingga monitoring serta evaluasi.
Sudarsono berharap bimtek tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para peserta sekaligus memperkuat komitmen untuk mengedepankan pencegahan.
“Saya juga berharap kegiatan ini dapat memperkuat komitmen kita untuk mengedepankan pencegahan dan penguatan keluarga, dan penanganan kasus yang telah terjadi melalui layanan-layanan yang diberikan oleh SDM-SDM yang terlatih dan bersertifikasi,” katanya.
Ia juga meminta para peserta tidak hanya menunggu laporan ketika terjadi kasus. Mereka didorong aktif melakukan observasi dan jemput bola agar keluarga rentan lebih mudah memperoleh akses pelayanan.
“SDM-SDM yang sekarang mengikuti bimtek untuk dapat lebih berperan aktif di lapangan dalam peningkatan kapasitas keluarga, tidak hanya menunggu pelaporan, tetapi berinisiatif untuk observasi dan jemput bola untuk kemudahan akses pelayanan bagi keluarga-keluarga, khususnya keluarga rentan,” ujarnya.
Sudarsono menegaskan penguatan ketahanan keluarga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam membangun perlindungan bagi perempuan, anak dan keluarga.
Sinergi diperlukan antara perangkat daerah, tenaga kesejahteraan sosial, pekerja sosial, penyuluh sosial, Puspa, satuan pendidikan, fasilitas kesehatan, aparat penegak hukum, lembaga masyarakat, dunia usaha serta seluruh elemen masyarakat.
“Layanan yang terintegrasi harus kita bangun sehingga keluarga yang menghadapi persoalan tidak berjalan sendiri dalam mencari solusi. Mereka harus mendapatkan akses terhadap layanan yang tepat, pendampingan yang berkelanjutan, serta dukungan yang mampu mengembalikan dan memperkuat keberfungsian keluarga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Banjar Hani Supartini mengatakan penguatan ketahanan keluarga merupakan bagian penting dari upaya preventif untuk mencegah berbagai persoalan sosial, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dan anak.
Menurut Hani, keluarga harus menjadi lingkungan pertama yang memberikan rasa aman, perlindungan dan perhatian kepada setiap anggotanya. Karena itu, kapasitas keluarga perlu diperkuat secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur.
“Ketahanan keluarga ini menjadi salah satu upaya preventif. Ketika keluarga kuat, komunikasi terbangun dengan baik dan pola asuh berjalan positif, maka berbagai persoalan yang berpotensi terjadi terhadap perempuan dan anak dapat lebih dini dicegah,” kata Hani.
Ia berharap peningkatan kapasitas para pendamping dan pihak yang terlibat dalam manajemen kasus dapat memperkuat sistem pelayanan di lapangan. Dengan begitu, keluarga yang membutuhkan bantuan dapat memperoleh pendampingan secara cepat, tepat dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Banjar menghadirkan Dr. Veny Hidayat, M.Psi., Psikolog dan Dr. Kanya Eka Santi, MSW dari Akademi Poltekkes Bandung sebagai narasumber.
Melalui kegiatan ini, Pemkot Banjar berharap terbangun sistem pelayanan yang semakin kuat dan terpadu, sekaligus mendorong terwujudnya keluarga yang tangguh, harmonis, mandiri dan saling melindungi sebagai lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang anak. (Ucup)






