Banjar, JurnalMediaNetwork — Muhamad Jafar Sidiq membuktikan bahwa keterbatasan modal bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Berangkat dari Kota Banjar menuju Jakarta dengan bekal hanya Rp250 ribu, Jafar kini mampu membangun karier sebagai content creator dengan ratusan ribu pengikut di media sosial.
Keputusan merantau ke Jakarta bukan perkara mudah. Jafar mengaku sempat diremehkan ketika memilih meninggalkan Banjar demi mengejar karier sebagai influencer. Dukungan dari keluarga pun tidak sepenuhnya seperti yang ia harapkan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Jafar memilih terus berkarya dengan membuat berbagai konten dan membangun pengikut di media sosial.
Perlahan, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Akun media sosial Jafar kini telah memiliki ratusan ribu pengikut dan mendapatkan tanda verifikasi. Sejumlah konten TikTok yang dibuatnya bahkan berhasil ditonton hingga jutaan kali.
Bagi Jafar, pencapaian tersebut bukan sekadar soal popularitas. Ia ingin membuktikan kepada keluarga dan orang-orang yang pernah meragukannya bahwa profesi content creator dapat menjadi pekerjaan yang menghasilkan apabila ditekuni secara serius.
Meski telah sukses membangun karier di Jakarta, Jafar tetap memberikan perhatian terhadap kondisi Kota Banjar. Ia bahkan mengaku setuju dengan pernyataan KDM yang menyebut Banjar sebagai “kota ripuh”.
Menurut Jafar, salah satu persoalan yang dirasakan masyarakat adalah ketimpangan antara pendapatan dengan biaya kebutuhan dan gaya hidup yang tersedia.
Ia mencontohkan besaran upah minimum yang menurutnya berada di kisaran Rp2 juta. Sementara itu, untuk menikmati kuliner tertentu, masyarakat bisa mengeluarkan biaya hingga Rp1 juta.
“UMR sekitar Rp2 juta, tetapi kulineran bisa sampai habis Rp1 juta,” ujar Jafar.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari besaran pendapatan masyarakat. Kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menikmati aktivitas ekonomi juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Jafar sendiri memilih untuk tidak hanya mengeluhkan kondisi tersebut. Ia mengambil keputusan untuk keluar dari Banjar dan mencoba membangun masa depan di Jakarta.
Berangkat dengan modal Rp250 ribu, tanpa kepastian pekerjaan dan dengan dukungan yang terbatas, Jafar berusaha bertahan di tengah persaingan industri kreator yang sangat ketat.
Kini, namanya mulai dikenal sebagai salah satu influencer asal Banjar yang berhasil membangun basis pengikut hingga ratusan ribu. Konten-kontennya pun telah ditonton jutaan kali.
Kisah Jafar menjadi gambaran bahwa anak muda dari daerah memiliki kesempatan untuk bersaing di tingkat nasional. Jakarta memang menawarkan pasar dan peluang yang lebih luas, tetapi keberhasilan tetap membutuhkan keberanian, kreativitas, konsistensi, dan kemampuan untuk bertahan.
Bagi Jafar, Banjar bukan sekadar kota yang ia tinggalkan untuk merantau. Banjar justru menjadi titik awal perjalanan dan tempat ia membuktikan bahwa seseorang dari daerah pun mampu menembus panggung nasional.
Berawal dari Rp250 ribu, Jafar memilih percaya pada kemampuannya sendiri dan terus melangkah mengejar mimpi. (Ucup)






