Pangandaran, JurnalMediaNetwork – Upaya membangun karakter peserta didik tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal maupun teknologi mutakhir. Di SD Negeri 5 Cimanggu, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, nilai-nilai budaya Sunda justru dijadikan pijakan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu membentuk murid lebih disiplin, santun, peduli, dan bertanggung jawab.
Gagasan tersebut dikembangkan oleh Yogi Muhamad Fauji, S.Pd., melalui inovasi pendidikan karakter bernama PENDEKAR SILAT (Pendidikan Karakter Siliwangi Siap Melesat).
Program ini lahir dari kegelisahan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan, mulai dari perubahan lingkungan sosial, perkembangan teknologi, keberagaman kondisi keluarga, hingga kebutuhan untuk memperkuat karakter murid dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Yogi, sekolah perlu mencari pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak. Karena itu, kearifan lokal Sunda tidak ditempatkan sebatas pengetahuan budaya, tetapi diolah menjadi kebiasaan dan praktik yang diterapkan dalam keseharian warga sekolah.
“Gagasan ini berangkat dari kebutuhan untuk memperkuat kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan kesantunan murid. Kami mencoba menjadikan budaya yang dekat dengan kehidupan mereka sebagai bagian dari proses pembentukan karakter,” kata Yogi, Selasa 25 Agustus 2026.
Filosofi Sunda Menjadi Fondasi
PENDEKAR SILAT mengadopsi nilai filosofi Siliwangi yang diterjemahkan melalui empat prinsip, yakni Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Wawangian.
Keempat nilai tersebut kemudian dikolaborasikan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Pendidikan Karakter Pancawaluya, Pendidikan Karakter Melesat, serta pendekatan Pembelajaran Mendalam.
Konsepnya sederhana, karakter tidak hanya dijelaskan melalui teori atau nasihat, tetapi harus dialami dan dibiasakan oleh murid.
Nilai Silih Asah, misalnya, diarahkan untuk mendorong murid saling belajar dan mengembangkan kemampuan. Implementasinya dilakukan melalui berbagai kegiatan literasi, numerasi, pembelajaran RAMAH (Rekognisi, Analisis, Membuat, Aksi Lanjut, dan Hasil Belajar), MARLIN (Merdekakan Anak Raih Literasi dan Numerasi), serta SILATURAHMI yang menjadi ruang bagi guru untuk berbagi pengetahuan dan meningkatkan kompetensi.
Sementara Silih Asih diwujudkan melalui SOMÉAH (Sadar Kana Lampah Éling Kana Kahadean) yang menekankan kesantunan, serta SABILULUNGAN sebagai upaya menanamkan kepedulian sosial dan semangat gotong royong.
Adapun nilai Silih Asuh diterapkan melalui SAJABAR (Solat Berjamaah jeung Ibadah Rutin), budaya Raresik (Rajin Beberes Sadar Kana Kabersihan), serta TATANGI (Taliti, Tanggap, Ngajugjug Imah) melalui kegiatan kunjungan ke rumah murid.
Program TATANGI sekaligus menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi antara sekolah dan keluarga, khususnya dalam mendampingi perkembangan peserta didik.
Sedangkan Silih Wawangian diwujudkan melalui NGARUMAT (Ngalakukeun, Ngajaga, Nembongkeun jeung Nularkeun Kahadéan), yakni membangun kebiasaan untuk melakukan, menjaga, menunjukkan, mendokumentasikan, sekaligus menyebarkan berbagai praktik kebaikan.
Guru Harus Menjadi Teladan
Yogi menilai pendidikan karakter akan sulit berhasil apabila hanya disampaikan melalui ceramah. Keteladanan guru menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
“Karakter tidak cukup diceramahkan. Guru harus memberikan contoh melalui sikap dan perilaku sehari-hari,” katanya.
Prinsip tersebut diterapkan melalui kedisiplinan, komunikasi yang santun, tanggung jawab, penghormatan terhadap perbedaan, hingga kepedulian terhadap kebutuhan murid.
Dengan pola tersebut, anak tidak hanya mendengar tentang pentingnya disiplin, tetapi melihat langsung bagaimana orang dewasa menerapkannya. Begitu pula dengan kesantunan dan kepedulian yang tidak sekadar menjadi materi pembelajaran, melainkan pengalaman yang mereka temui setiap hari.
Karena itu, PENDEKAR SILAT diarahkan bukan hanya sebagai program sekolah, tetapi berkembang menjadi budaya sekolah.
Melibatkan Sekolah, Keluarga dan Masyarakat
Pembentukan karakter juga tidak dipandang sebagai tugas guru semata. Program ini mendorong keterlibatan tiga lingkungan utama pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Melalui TATANGI serta SIGMA (Sistem Informasi Guru dan Manajemen Administrasi), komunikasi dengan orang tua terus diperkuat. Perkembangan murid diharapkan dapat dipantau secara lebih menyeluruh, baik ketika berada di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi Tri Pusat Pendidikan, sehingga pendidikan karakter tidak berhenti ketika murid keluar dari lingkungan sekolah.
Sejumlah perubahan pun mulai terlihat dalam iklim sekolah. Murid didorong menjadi lebih santun, disiplin, peduli terhadap lingkungan sekitar, serta terbiasa bekerja sama.
Di sisi lain, para guru juga didorong meninggalkan pola kerja individual menuju budaya yang lebih kolaboratif melalui berbagi praktik baik dan pengembangan kompetensi secara bersama.
Inovasi Tidak Harus Mahal
Salah satu pesan kuat yang dibawa PENDEKAR SILAT adalah bahwa keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
Program tersebut dirancang dengan pendekatan low cost, memanfaatkan lingkungan dan potensi budaya yang sudah tersedia di sekitar sekolah.
Kearifan lokal pun dipandang tidak bertentangan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, nilai budaya dapat menjadi fondasi bagi murid agar mampu menghadapi kemajuan teknologi dengan tetap memiliki etika, kesantunan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Dari Cimanggu untuk Sekolah Lain
Inovasi yang dikembangkan di SD Negeri 5 Cimanggu tersebut juga diarahkan agar dapat diterapkan di sekolah lain melalui dokumentasi praktik baik, pengimbasan, komunitas belajar, hingga integrasi dalam Kurikulum Satuan Pendidikan.
Upaya penguatan budaya sekolah tersebut turut mendapat pengakuan melalui Anugerah Gapura Pancawaluya Kategori Madya Jenjang SD/MI se-Kabupaten Pangandaran Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 yang diraih SD Negeri 5 Cimanggu.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator bahwa penguatan karakter berbasis budaya lokal dapat berkembang menjadi bagian dari budaya organisasi sekolah.
Ke depan, PENDEKAR SILAT akan terus dikembangkan. Dalam tahap awal, sekolah menyiapkan Bank Aktivitas Karakter berbasis kearifan lokal serta memperkuat pelaporan perkembangan karakter melalui SIGMA.
Selanjutnya, model tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi buku panduan dan bahan lokakarya untuk pengimbasan. Dalam jangka panjang, PENDEKAR SILAT ditargetkan tumbuh sebagai budaya sekolah yang berkelanjutan sekaligus menjadi referensi bagi pendidik lainnya.
Menjaga Akar, Menyiapkan Masa Depan
PENDEKAR SILAT pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kegiatan dengan nama-nama khas Sunda. Di dalamnya terdapat upaya untuk menjadikan budaya yang hidup di tengah masyarakat sebagai sumber kekuatan pendidikan.
Silih Asah mengajarkan semangat untuk terus belajar. Silih Asih menumbuhkan kepedulian. Silih Asuh membangun rasa tanggung jawab dan saling menjaga. Sementara Silih Wawangian mendorong setiap orang untuk menebarkan kebaikan.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu. Jika dikembangkan secara tepat, budaya dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Dari SD Negeri 5 Cimanggu, sebuah pesan sederhana muncul: membentuk murid hebat tidak harus dengan meninggalkan akar budaya. Justru dari akar budaya yang kuat, karakter anak dapat tumbuh dan berkembang.
“Pendidikan karakter yang paling bermakna bukan hanya yang tertulis dalam dokumen sekolah. Karakter harus terlihat dari cara murid berbicara, bersikap, bekerja sama, menjaga lingkungan, menghormati orang lain, dan melakukan kebaikan tanpa harus diperintah,” ujarnya. (*)






