Opini  

Islam Menyelesaikan Tawuran Pelajar

Islam Menyelesaikan Tawuran Pelajar

JurnalMediaNetwork – Pembinaan di barak militer menjadi salah satu langkah yang kini ditempuh. Para siswa yang terlibat kenakalan diarahkan untuk menjalani disiplin yang lebih ketat. Mereka dilatih, dibimbing, dan dibentuk ulang karakternya. Harapan pun disematkan, bahwa perubahan perilaku yang lebih positif.

Dalam konteks ini, Gubernur Jawa Barat, menyoroti fenomena tawuran pelajar yang kerap terjadi. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar pelaku berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Pernyataan tersebut dipublikasikan salah satu media online pada 5 Mei 2025.

Fakta ini menghadirkan satu wajah persoalan. Namun, ia belum sepenuhnya menjelaskan keseluruhan cerita, bahwa kemiskinan memang memberi tekanan nyata. Keterbatasan ekonomi dapat mempersempit pilihan hidup. Namun, menempatkan kemiskinan sebagai penjelasan utama terasa belum memadai. Banyak remaja dari latar berbeda juga menghadapi persoalan serupa, meski dalam bentuk yang tidak selalu tampak.

Masa remaja adalah fase pencarian identitas. Ia menekankan bahwa remaja membutuhkan pengakuan dan tempat untuk mengekspresikan diri. Ketika ruang itu tidak tersedia, mereka cenderung mencari jalur lain. Dari sini, tawuran dapat dipahami sebagai bentuk ekspresi yang keliru, bukan sekadar pelanggaran semata.

Dengan demikian, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan cara lingkungan membentuk dan merespons generasi muda.

Remaja tumbuh dalam lingkungan yang kompleks. Mereka menghadapi arus informasi yang deras. Mereka juga melihat berbagai standar hidup yang tidak selalu realistis. Di sisi lain, tidak semua memiliki pendampingan yang kuat. Kondisi ini menciptakan ruang kosong dalam proses tumbuh mereka.

Kemudian, interaksi sosial sering bergerak tanpa arah nilai yang jelas. Remaja belajar dari lingkungan sekitar. Mereka meniru apa yang dianggap kuat dan diakui. Dalam situasi tertentu, kekerasan justru tampak sebagai simbol keberanian. Tawuran pun berubah menjadi panggung pembuktian diri.

Baca Juga :  Euforia Zakat dan Tantangan Amanah Pengelolaan

Lebih jauh, tekanan ekonomi memang memperberat situasi. Keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sering kekurangan waktu dan energi untuk membimbing anak. Namun, akar persoalan tidak berhenti di sana. Ia menyentuh cara masyarakat memaknai keberhasilan, cara pendidikan membentuk karakter, dan cara lingkungan memberi arah.

Jika ditelusuri lebih dalam, tampak adanya ketidakseimbangan dalam membangun manusia. Kebebasan sering hadir lebih cepat daripada tanggung jawab. Aturan ada, tetapi tidak selalu menanamkan kesadaran. Remaja akhirnya berjalan tanpa kompas yang kuat.

Selanjutnya, pendidikan kerap menekankan capaian angka. Nilai akademik menjadi ukuran utama. Sementara itu, pembentukan kepribadian belum mendapat porsi yang seimbang. Lingkungan sosial pun tidak selalu menghadirkan kontrol yang sehat. Akibatnya, remaja mencari makna di luar sistem yang ada.

Dalam situasi seperti ini, tawuran bukan sekadar tindakan spontan. Ia menjadi sinyal bahwa ada yang belum selesai dalam cara kita membangun generasi.

Islam Menyentuh Akar, Bukan Sekadar Gejala

Islam menawarkan pendekatan yang menyentuh akar persoalan. Ia tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga membentuk cara berpikir dan merasa. Al-Qur’an mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menegaskan pentingnya perubahan dari dalam.

Rasulullah saw. juga memberikan teladan nyata dalam membina generasi. Beliau membentuk para sahabat sejak usia muda dengan nilai iman dan tanggung jawab. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda, “Tidaklah seorang ayah memberikan pemberian yang lebih baik kepada anaknya selain adab yang baik” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa pembinaan karakter menjadi prioritas utama.

Baca Juga :  Urbanisasi, Butuh Pemerataan Pembangunan

Dalam sejarah, para pemimpin Islam memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan materi dan pembinaan moral. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal memastikan kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga ketertiban sosial. Ia tidak membiarkan kebutuhan dasar terabaikan, sekaligus menegakkan nilai yang membimbing masyarakat.

Solusi yang ditawarkan Islam bersifat menyeluruh. Keluarga menjadi fondasi utama. Orang tua berperan aktif dalam menanamkan nilai sejak dini. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membimbing arah hidup anak.

Kemudian, pendidikan dirancang untuk membentuk kepribadian yang utuh. Ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan pembinaan akhlak. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter.

Selanjutnya, masyarakat mengambil peran sebagai pengingat. Nilai kebaikan dijaga bersama. Penyimpangan tidak dibiarkan berkembang tanpa arah. Lingkungan menjadi ruang yang aman bagi remaja untuk tumbuh.

Di sisi lain, negara memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Stabilitas ekonomi membantu keluarga menjalankan perannya dengan lebih baik. Dengan demikian, tekanan hidup dapat berkurang, dan perhatian terhadap anak dapat meningkat.

Pada akhirnya, tawuran tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan permukaan. Ia membutuhkan pembacaan yang jernih dan langkah yang mendalam. Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki cara pandang. Sebab, masa depan generasi muda bergantung pada sejauh mana kita mampu menata kembali arah kehidupan mereka.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)