Di Balik Asap Tungku Surabi Legend Banjar, Ada Kisah Perjuangan Abah Udin

Banjar, Jurnalmedianetwork – Di sudut malam Kota Banjar, saat sebagian warung mulai menutup pintu, aroma asap kayu bakar justru menguar dari sebuah lapak sederhana bernama Surabi H Abah Udin “Lion Door” atau Pintu Singa.

Dari tungku tradisional yang menyala sejak petang hingga dini hari, surabi-surabi hangat terus lahir satu per satu, menemani pelanggan yang datang silih berganti.

Warung surabi milik Abah Udin itu sudah seperti penanda malam bagi warga Banjar. Buka mulai pukul 17.00 hingga pukul 01.00 dini hari, tempat ini tak pernah benar-benar sepi.

Kepulan asap tipis dari kayu bakar bercampur harum santan dan adonan yang matang perlahan di atas cetakan tanah liat menjadi aroma yang akrab bagi para pemburu kuliner malam.

“Dulu pernah di depan SMA selama tiga tahun,” ujar Abah Udin (69) sambil sesekali membalik surabi di atas tungku.

Puluhan tahun berjualan membuat tangan Abah begitu cekatan. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 15 kilogram adonan surabi saat ramai, meski belakangan turun menjadi sekitar 12 kilogram.

*Untuk adonan gorengan, kebutuhan mencapai 12 kilogram per hari. Sementara telur yang dipakai sebagai pelengkap bisa mencapai 5 sampai 7 kilogram,” sebutnya.

Yang menarik, semua masih dimasak menggunakan kayu bakar. Dalam sebulan bisa menghabiskan satu kolbak kayu pilihan dengan harga Rp 300 ribu.

Kayu pilihan bisa habis demi menjaga bara api tetap stabil hingga tengah malam. Menurut Abah, rasa surabi yang khas justru lahir dari proses tradisional itu.

“Kalau pakai gas beda rasanya,” ucapnya singkat.

Di antara banyak varian, kata Bah Udin, surabi oncom dan surabi polos menjadi menu paling diburu pelanggan.

Kesederhanaan rasa justru jadi daya tarik utama. Gurih santan yang berpadu aroma asap kayu menciptakan rasa yang sulit ditiru.

Sebelum menetap di lokasi sekarang, Abah Udin pernah berjualan di depan tempat lain dengan penjualan jauh lebih besar. Saat itu, kebutuhan adonan bahkan bisa mencapai 20 sampai 25 kilogram sehari. Namun baginya, yang terpenting bukan sekadar ramai pembeli, melainkan usaha tetap berjalan dan dapur tetap menyala.

Dari berjualan surabi pula, Abah Udin pelan-pelan menabung untuk mewujudkan impian berangkat ke Tanah Suci.

Ia mengaku pernah menyisihkan sekitar Rp3 juta setiap minggu hingga akhirnya bisa menunaikan ibadah haji bersama sang istri pada 2012. Sepuluh tahun kemudian, keduanya kembali berangkat umrah pada 2022.

“Alhamdulillah, semua biayanya dari jualan surabi,” kenangnya.

Kini, di usia yang hampir tujuh dekade, Abah Udin masih setia menjaga tungku. Ia telah memiliki tiga anak dan lima cucu. Dari usaha sederhana itu, penghasilan bersih yang dibawa pulang berkisar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari, dengan omzet kotor bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp2 juta lebih saat ramai.

Bahkan ketika pandemi Covid-19 sempat membuat banyak usaha kuliner tumbang, tungku surabi milik Abah tetap menyala. Pelanggan memang berkurang, tapi ia memilih bertahan.

Bagi warga Banjar, surabi Abah Udin bukan sekadar makanan malam. Ia adalah cerita tentang ketekunan, asap kayu bakar, dan mimpi besar yang dibangun perlahan dari adonan sederhana di atas tungku tua. (**)