Berita  

KPA Banjar: Bukan Sekadar Temukan Kasus, Tantangannya Memastikan ODHIV Mau Berobat

Banjar, JurnalMediaNetwork – Penemuan 22 kasus HIV baru di Kota Banjar sepanjang Semester I 2026 tidak hanya menjadi catatan angka bagi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Persoalan yang kini menjadi perhatian adalah bagaimana memastikan setiap orang yang telah teridentifikasi HIV segera terhubung dengan layanan pengobatan.

Dari 22 kasus baru tersebut, baru 6 orang atau 27,3 persen yang tercatat telah memulai pengobatan Antiretroviral (ARV). Artinya, masih terdapat sebagian besar kasus yang belum terhubung dengan layanan pengobatan pada periode pelaporan tersebut.

Sekretaris KPA Kota Banjar, Agus Mulyana, mengatakan tantangan penanggulangan HIV dimulai sejak tahap paling awal, yakni mendorong masyarakat yang memiliki risiko untuk berani melakukan pemeriksaan.

“Tes HIV itu gratis, sehingga secara mandiri mereka yang memiliki risiko memiliki kesadaran untuk mau memeriksa. Tetapi memang tidak mudah,” ujar Agus.

Menurutnya, kasus HIV yang tercatat merupakan kasus yang berhasil ditemukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Sebagian masyarakat datang secara sukarela ke puskesmas atau fasilitas kesehatan, sementara sebagian lainnya terjaring melalui kegiatan skrining di masyarakat maupun pemeriksaan saat donor darah.

Dengan demikian, Agus menilai angka kasus yang tercatat belum tentu menggambarkan seluruh kondisi di lapangan. Sebab, masyarakat yang tidak melakukan pemeriksaan tentu tidak akan teridentifikasi.

Masalah Besarnya Ada pada Stigma

Agus menilai salah satu tantangan terbesar bukan semata-mata keterbatasan layanan kesehatan, melainkan masih adanya stigma negatif terhadap HIV/AIDS.

Stigma membuat sebagian masyarakat takut melakukan tes. Bahkan, ketika seseorang telah dinyatakan positif HIV, stigma dapat membuat yang bersangkutan enggan melanjutkan pengobatan karena khawatir dikucilkan atau dianggap sebagai aib.

Baca Juga :  25 Calon Ramaikan Pemilihan BPD Desa Langensari

“Stigma yang negatif ini mengakibatkan mereka menjadi mundur, menjadi takut. Dikhawatirkan mereka malah sengaja tidak memeriksakan diri karena dianggap aib, kemudian dikucilkan,” katanya.

Karena itu, KPA mendorong perubahan cara pandang masyarakat. HIV/AIDS, kata Agus, harus dipahami berdasarkan informasi medis yang benar, bukan berdasarkan asumsi dan ketakutan.

KPA Minta Kesalahpahaman Cara Penularan Diluruskan

Salah satu bentuk edukasi yang dinilai penting adalah meluruskan pemahaman mengenai cara penularan HIV.

Agus menyebut masih ada masyarakat yang menganggap HIV dapat menular melalui interaksi sosial biasa, seperti bersentuhan atau berciuman. Menurutnya, pemahaman semacam itu justru memperkuat diskriminasi terhadap ODHIV.

“Kami berharap teman-teman media bisa mempublikasikan bahwa cara penularan bukan seperti itu,” tegasnya.

KPA berharap media dapat membantu membangun pemahaman bahwa seseorang tidak seharusnya dijauhi hanya karena status HIV-nya.

22 Kasus Didominasi Kelompok Usia Produktif

Sementara itu, data KPA Kota Banjar menunjukkan kasus HIV baru pada Semester I 2026 didominasi kelompok usia produktif.

Dari total 22 kasus, sebanyak 17 kasus atau 77 persen berada pada kelompok usia 25–49 tahun. Sebanyak tiga kasus atau 14 persen berada pada usia 50 tahun ke atas, sedangkan kelompok usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun masing-masing satu kasus.

Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 18 laki-laki dan empat perempuan.

Dari sisi fasilitas kesehatan, RSUD Banjar menjadi fasilitas dengan jumlah temuan terbanyak, yakni tujuh kasus. Namun, baru dua orang atau 28,6 persen yang tercatat telah mendapatkan ARV.

Baca Juga :  Haul Bung Karno, PDIP Kota Banjar Dorong Kader Warisi Semangat dan Ideologi Sang Proklamator

Puskesmas Banjar 3 menemukan dua kasus tanpa pasien yang tercatat memulai ARV. RS Banjar Patroman menemukan lima kasus dan belum ada yang mendapatkan ARV.

Sementara Puskesmas Langensari 2 mencatat tiga kasus dan seluruhnya telah mendapatkan ARV. Puskesmas Pataruman 3 menemukan dua kasus dengan satu pasien telah mendapatkan ARV, sedangkan RS Asih Husada mencatat tiga kasus tanpa pasien yang tercatat memulai pengobatan.

Media Didorong Jadi Garda Edukasi

Melihat kondisi tersebut, KPA Kota Banjar ingin membangun kolaborasi lebih kuat dengan media.

Agus mengatakan media memiliki posisi strategis untuk menyampaikan informasi yang benar sekaligus mengubah persepsi masyarakat mengenai HIV/AIDS.

“Harapannya nanti ke depan kita bergandengan tangan untuk bisa mempublikasikan penanggulangan HIV/AIDS, pengertiannya, penyebabnya, cara penularannya, cara penanggulangannya, dan membangun stigma yang positif, bukan stigma yang negatif terhadap penderita HIV/AIDS,” katanya.

Menurut Agus, keberhasilan penanggulangan HIV tidak cukup hanya dengan menemukan kasus. Ada tiga target yang ingin dicapai, yakni masyarakat yang memiliki risiko mau melakukan tes, mereka yang dinyatakan positif bersedia menjalani pengobatan, dan perubahan perilaku yang dapat menekan risiko penularan.

“Goal-nya adalah setiap orang yang memiliki risiko memiliki kesadaran untuk diperiksa tes HIV. Ketika sudah positif, maka berusaha untuk terus berobat,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, KPA berharap penanggulangan HIV/AIDS di Kota Banjar tidak berhenti pada angka penemuan kasus, tetapi berlanjut pada deteksi dini, pengobatan, perubahan perilaku dan penghapusan stigma, sehingga penularan HIV dapat ditekan. (Joe)