Stigma Masih Jadi Penghalang, KPA Banjar Ajak Media Perkuat Edukasi HIV

Banjar, JurnalMediaNetwork Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Banjar menaruh perhatian pada dua persoalan yang masih membayangi upaya penanggulangan HIV/AIDS: rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan kuatnya stigma terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Untuk menghadapi persoalan itu, KPA Kota Banjar menggandeng insan media. Media dinilai memiliki posisi strategis dalam menyebarkan informasi kesehatan yang akurat sekaligus membongkar berbagai kesalahpahaman tentang HIV/AIDS yang masih berkembang di masyarakat.

Ketua KPA Kota Banjar, H. Supriana, mengatakan pemberitaan yang tepat dapat membantu masyarakat memahami HIV/AIDS secara lebih benar. Informasi yang keliru, sebaliknya, berpotensi memperkuat ketakutan, stigma, dan diskriminasi.

“Media menjadi salah satu mitra penting dalam penanggulangan HIV/AIDS. Melalui pemberitaan dan publikasi yang tepat, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang benar sehingga kesadaran untuk melakukan pencegahan dan pemeriksaan semakin meningkat,” kata Supriana dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi HIV/AIDS bersama insan media di Kota Banjar, Ahad, 31 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Peran dan Fungsi Media dalam Penanggulangan HIV/AIDS” dengan slogan “Bersama Media, Kita Tingkatkan Kesadaran, Perkuat Solidaritas, Akhiri HIV/AIDS.”

Menurut Supriana, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. Media juga memiliki peran edukasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, mendorong perubahan perilaku, serta menjalankan fungsi advokasi dalam mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV.

Penanggulangan HIV/AIDS, kata dia, tidak mungkin dibebankan kepada satu lembaga atau pemerintah semata.

“Dibutuhkan kerja sama dan sinergi semua elemen, termasuk teman-teman media,” ujarnya.

KPA Kota Banjar, kata Supriana, membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, lembaga terkait, masyarakat, dan media untuk memperkuat program pencegahan serta penanganan HIV/AIDS.

Tes HIV Gratis, Kesadaran Masih Jadi Tantangan

Sekretaris KPA Kota Banjar, H. Agus, mengatakan salah satu informasi yang perlu terus disebarkan adalah tersedianya layanan pemeriksaan HIV secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga :  Keselamatan Pasien Jadi Prioritas, RSUD Kota Banjar Latih Staf Hadapi Kebakaran

Namun, keberadaan layanan tersebut belum otomatis membuat masyarakat yang memiliki faktor risiko datang untuk melakukan pemeriksaan. Kesadaran untuk menjalani tes secara sukarela masih menjadi pekerjaan rumah.

“Tugas kita bersama, termasuk teman-teman media, adalah mempublikasikan bahwa tes HIV itu gratis. Harapannya, masyarakat yang merasa memiliki risiko memiliki kesadaran untuk memeriksakan diri secara mandiri,” kata Agus.

Menurut dia, ketakutan dan stigma menjadi salah satu alasan yang membuat seseorang enggan melakukan pemeriksaan. Kekhawatiran terhadap penilaian lingkungan dapat membuat orang memilih diam, meskipun memiliki risiko dan membutuhkan layanan kesehatan.

Padahal, semakin lama seseorang menunda pemeriksaan, semakin besar kemungkinan penanganan medis juga terlambat dilakukan.

“Yang harus diperkuat adalah bagaimana stigma terhadap HIV/AIDS jangan sampai menjadi stigma negatif. Kita harus membangun pemahaman yang benar kepada masyarakat,” ujarnya.

Kesalahpahaman tentang Penularan

Agus mengatakan masih terdapat berbagai kesalahpahaman mengenai HIV dan cara penularannya. Informasi yang tidak tepat, menurut dia, kerap menjadi sumber munculnya perlakuan diskriminatif terhadap orang yang hidup dengan HIV.

Karena itu, edukasi publik harus dilakukan secara konsisten dan berdasarkan informasi kesehatan yang benar.

“Kami berharap teman-teman media bisa terus mempublikasikan informasi yang benar mengenai HIV, termasuk bagaimana penularannya dan bagaimana cara pencegahannya,” kata Agus.

Menurut dia, tujuan penanggulangan HIV bukan hanya mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan. Orang yang telah mengetahui status HIV-nya juga harus mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan dan menjalani pengobatan secara berkelanjutan sesuai arahan tenaga medis.

“Tujuan kita adalah bagaimana orang yang memiliki risiko memiliki kesadaran untuk melakukan tes HIV. Kemudian, ketika sudah diketahui positif, mereka mau dan terus menjalani pengobatan,” ujarnya.

Baca Juga :  Cegah Persoalan Saat Dibagikan, Bulog Periksa Berat dan Kualitas Beras Bantuan

Stigma dan diskriminasi, kata Agus, dapat menjadi penghalang serius dalam seluruh proses tersebut. Seseorang yang takut mendapat perlakuan buruk berpotensi menghindari pemeriksaan maupun layanan kesehatan.

Karena itu, perubahan cara pandang masyarakat menjadi bagian penting dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Soroti Perilaku Berisiko

KPA Kota Banjar juga menekankan pentingnya edukasi mengenai berbagai faktor dan perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV.

Agus menyinggung bahaya penyalahgunaan narkoba, terutama penggunaan narkoba suntik dengan peralatan yang tidak steril atau digunakan secara bergantian.

Selain itu, masyarakat juga perlu memperoleh informasi kesehatan yang benar mengenai perilaku seksual berisiko agar dapat mengambil langkah pencegahan secara tepat dan bertanggung jawab.

Ke depan, KPA Kota Banjar berharap kemitraan dengan media tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Kolaborasi diharapkan terus berjalan untuk menyebarkan informasi mengenai faktor risiko, pencegahan, pemeriksaan, akses layanan kesehatan, hingga pentingnya pengobatan berkelanjutan.

“Goal-nya adalah masyarakat yang memiliki risiko mempunyai kesadaran untuk melakukan pemeriksaan. Ketika sudah positif, mereka mau berobat secara berkelanjutan. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan dan jumlah kasus dapat ditekan,” kata Agus.

Bagi KPA Kota Banjar, perang melawan HIV/AIDS bukan semata soal layanan kesehatan. Tantangan lainnya adalah melawan ketakutan, informasi keliru, serta stigma yang membuat orang enggan mencari pertolongan.

Di titik itulah media diharapkan mengambil peran: menyampaikan fakta, meluruskan kesalahpahaman, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk memahami HIV tanpa prasangka.

“Bersama media, kita tingkatkan kesadaran, perkuat solidaritas, hilangkan stigma, dan bersama-sama melakukan upaya terbaik dalam penanggulangan HIV/AIDS,” ujar Agus. (Ucup)