Banjar, JurnalMediaNetwork – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Banjar menggelar Intermediate Training (LK2) dan Latihan Khusus Kohati (LKK) sebagai bagian dari kaderisasi lanjutan untuk menyiapkan pemimpin muda yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Ketua Umum HMI Cabang Kota Banjar, Rio Julian Rustandi Putra, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang pembentukan kapasitas kader secara lebih mendalam.
“LK2 dan LKK ini menjadi momentum untuk melahirkan pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman. Kader HMI harus bisa menjadi jembatan antara nilai keislaman dan keindonesiaan di tengah gempuran teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat,” kata Rio, Rabu, 1 April 2026.
Menurut dia, forum kaderisasi tingkat lanjut itu juga dirancang untuk memperkuat daya kritis kader agar tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika kebijakan publik, tetapi mampu hadir sebagai aktor yang menawarkan solusi konkret.
Kegiatan tersebut diikuti puluhan peserta yang lolos seleksi dari berbagai cabang HMI di sejumlah daerah di Indonesia. Selama sepekan, mereka akan menerima materi dari tokoh nasional, akademisi, dan praktisi mengenai isu strategis kebangsaan.
Rio berharap kehadiran peserta dari luar daerah di Kota Banjar tidak hanya memperkaya pertukaran gagasan, tetapi juga membuka ruang promosi potensi lokal Banjar ke tingkat nasional.
“Output yang kami harapkan adalah lahirnya insan cita yang mampu menerjemahkan nilai-nilai HMI dalam aksi nyata di daerah masing-masing setelah kembali dari Kota Banjar,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Banjar, H. Supriana, mengapresiasi konsistensi HMI dalam menjaga kualitas perkaderan melalui penyelenggaraan LK2 dan LKK secara bersamaan.
“Kami sangat mengapresiasi HMI Cabang Kota Banjar yang terus menjaga marwah perkaderan. Ini menunjukkan gairah intelektual yang luar biasa dalam mencetak kader umat dan kader bangsa,” kata dia.
Menurut Supriana, LK2 merupakan fase penting untuk menguji kualitas intelektual kader dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa. Adapun LKK dinilai menjadi ruang strategis bagi kader HMI-Wati dalam memperkuat peran perempuan di berbagai sektor pembangunan.
Ia menilai Kota Banjar membutuhkan generasi muda yang tidak hanya piawai beretorika, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan ketajaman analisis dalam membaca realitas sosial.
Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, Supriana berharap HMI dapat terus menjadi mitra kritis sekaligus strategis bagi pemerintah daerah.
“Melalui forum ini, saya menantang para peserta untuk melahirkan gagasan-gagasan segar di bidang ekonomi kreatif, kebijakan publik, maupun penguatan sumber daya manusia yang bisa disinergikan untuk kemajuan daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Badko HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati, menilai kader HMI perlu memahami perubahan global yang sedang berlangsung, terutama pergeseran geopolitik dunia dari unipolar menuju multipolar.
“Kita saat ini tidak berada di ruang hampa. Dunia sedang mengalami pergeseran geopolitik dari unipolar menuju multipolar. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kader HMI untuk berkontribusi dalam peradaban,” kata Siti.
Ia menegaskan kader HMI harus mampu memformulasikan gagasan yang relevan, menjadi mitra kritis pemerintah, dan tetap konsisten memperjuangkan kebenaran di tengah berbagai bentuk ketidakadilan.
“Kader HMI harus berani bersuara dan bergerak. Jangan sampai kita diam ketika ada rekan yang mengalami intimidasi. Perjuangan untuk kebenaran harus terus kita jaga,” ujarnya.
Melalui LK2 dan LKK tersebut, HMI diharapkan melahirkan kader-kader unggul yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat dan bangsa. (*)






