JurnalMediaNetwork – Tepuk tangan mengisi ruangan. Cahaya lampu menyorot panggung. Nama-nama pemenang Putri Hijabfluencer Jawa Barat 2025 disebut satu per satu. Mereka tersenyum. Mereka melangkah pasti. Mereka membawa harapan. Media kemudian merekam momen itu sebagai inspirasi, para pemenang tidak hanya tampil, tetapi juga ingin memberi manfaat dengan mengusung gagasan pemberdayaan muslimah. Mereka ingin hadir sebagai agen perubahan.
Namun, setelah lampu padam dan panggung sunyi, muncul satu pertanyaan sederhana: ke mana arah langkah itu akan dibawa?
Peristiwa ini terlihat seperti narasi yang belum selesai. Ia baru membuka pintu, tetapi belum menuntun perjalanan. Semangat tampil dan berbagi memang penting. Namun, semangat itu memerlukan arah yang jelas agar tidak berhenti di permukaan. Dari sini, muslimah membutuhkan peta jalan. Tanpa itu, langkah yang cepat bisa kehilangan arah.
Kajian tentang perempuan di ruang publik sering menunjukkan pola yang sama. Banyak program berhasil membangun kepercayaan diri. Banyak pula yang membuka akses luas. Namun, tidak sedikit yang masih menempatkan perempuan pada ranah simbolik. Pemberdayaan perlu menyentuh dimensi nilai dan struktur, bukan sekadar citra.
Ruang publik saat ini tidak hanya menampung ekspresi. Ia juga membentuk cara berpikir. Ia menentukan apa yang dianggap penting. Ia mengarahkan perhatian. Ukuran keberhasilan sering terlihat sederhana. Siapa yang paling dikenal, paling menarik perhatian, dan paling sering dibicarakan. Standar ini kemudian memengaruhi pilihan. Ia memengaruhi cara menyampaikan pesan. Ia bahkan memengaruhi tujuan.
Akibatnya, pesan yang ringan lebih mudah mengalir. Pesan yang mendalam sering tertinggal. Peran yang seharusnya luas menjadi menyempit. Muslimah hadir dan aktif. Namun, tidak semua aktivitas mengarah pada perubahan yang mendasar.
Selanjutnya, kita perlu mengurai makna eksistensi itu sendiri. Hadir di ruang publik bukan tujuan akhir. Ia adalah sarana. Nilainya bergantung pada arah yang dituju. Muslimah memiliki posisi yang strategis. Ia berperan dalam keluarga, berpengaruh di masyarakat, dan membentuk generasi. Ketika peran ini diarahkan dengan visi yang jelas, dampaknya luas. Namun, ketika arah itu kabur, potensi besar itu tidak berkembang maksimal.
Sejarah memberi pelajaran penting. Muslimah pada masa awal Islam tidak hanya dikenal, tetapi juga berkontribusi nyata. Mereka menjaga nilai. Mereka menyampaikan ilmu. Mereka terlibat dalam kehidupan umat dengan kesadaran yang tinggi.
*Petunjuk Islam Meneguhkan Arah*
Al-Qur’an memberikan panduan yang tegas. Allah Swt. berfirman, “Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. At-Taubah: 71). Ayat ini menegaskan bahwa muslimah memiliki peran aktif dalam kehidupan sosial. Ia tidak berada di belakang. Ia berjalan bersama. Ia ikut menjaga arah masyarakat.
Rasulullah saw. juga memberi teladan. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, para sahabiyah hadir dalam majelis ilmu. Mereka bertanya. Mereka berdialog. Mereka menunjukkan kesadaran yang tinggi terhadap urusan agama dan kehidupan.
Sejarah pun memperkuat gambaran ini. Khadijah ra. memberikan dukungan penuh dalam dakwah. Aisyah ra. menjadi rujukan ilmu. Perempuan pada masa para khalifah tidak terpisah dari dinamika umat. Mereka hadir dengan kontribusi nyata.
*Penutup*
Refleksi ini tidak bermaksud menilai individu. Ia mengajak kita melihat arah bersama. Panggung, popularitas, dan pengaruh bukan sesuatu yang keliru. Namun, semua itu perlu dirawat dengan orientasi yang benar.
Muslimah perlu membangun kesadaran yang utuh. Ia perlu memahami bahwa setiap langkah memiliki dampak, menghubungkan aktivitas hari ini dengan tujuan yang lebih besar, dan menjaga agar pesan yang disampaikan tidak kehilangan makna.
Kemudian, lingkungan juga memiliki peran. Program pemberdayaan perlu memperkuat visi. Ia perlu mengajak berpikir, bukan hanya tampil, tetapi membangun kesadaran, bukan sekadar eksistensi.
Pada akhirnya, saat sorot lampu benar-benar redup, yang tersisa bukanlah tepuk tangan. Yang tersisa adalah arah. Di sanalah nilai seorang muslimah diuji dan makna sejati ditemukan.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Pegiat Literasi)






