Pangandaran, JurnalMediaNetwork — Puluhan pelajar sekolah dasar di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI). Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) yang digelar secara berjenjang hingga tingkat provinsi.
Kepala Disdikpora Kabupaten Pangandaran Soleh Supriyadi mengatakan FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan bagi para pelajar. Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya melestarikan bahasa, seni, dan budaya Sunda yang diwariskan para leluhur.
“Festival Tunas Bahasa Ibu bukan hanya tentang seni dan budaya, tetapi juga bagaimana warisan para leluhur tetap dilestarikan dan dikenal oleh generasi penerus,” kata Soleh dalam sambutannya.
Menurut Soleh, FTBI menjadi ruang bagi siswa sekolah dasar untuk mengenal lebih dekat bahasa serta seni budaya Sunda. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti dalam kegiatan festival, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengatakan para peserta dapat mempraktikkan nilai-nilai budaya Sunda baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. FTBI, kata dia, juga memberikan banyak pembelajaran yang dinilai penting bagi pembentukan karakter generasi muda.
“Melalui FTBI, para pelajar dapat memahami seni dan budaya Sunda serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah,” ujarnya.
Soleh juga berharap para pelajar yang nantinya mewakili Kabupaten Pangandaran dalam FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat dapat menunjukkan kemampuan terbaik. Ia berharap mereka mampu membawa pulang prestasi sekaligus mengharumkan nama daerah.
Sementara itu, Kepala Seksi pada Disdikpora Kabupaten Pangandaran, Diyah, mengatakan FTBI tingkat kabupaten merupakan tahapan lanjutan setelah para peserta mengikuti perlombaan serupa di tingkat kecamatan.
“Peserta yang menjadi juara di tingkat Kabupaten Pangandaran berhak mewakili daerah untuk mengikuti FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat,” kata Diyah.
Diyah mengatakan proses penilaian dalam FTBI tingkat kabupaten melibatkan para juri yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Penggunaan juri profesional tersebut diharapkan menghasilkan peserta terbaik yang mampu bersaing dalam kompetisi tingkat provinsi.
“Persaingan di tingkat provinsi cukup ketat. Karena itu, kami berharap peserta yang terpilih di tingkat kabupaten benar-benar memiliki kualitas dan mampu meraih prestasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, para peserta yang lolos ke tingkat provinsi tidak hanya membawa nama pribadi dan sekolah, tetapi juga membawa nama Kabupaten Pangandaran. Karena itu, persiapan dan kemampuan peserta menjadi perhatian dalam proses seleksi.
FTBI menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan kembali bahasa dan budaya daerah kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman. Melalui kegiatan tersebut, Disdikpora Pangandaran berharap keberadaan bahasa serta seni budaya Sunda tetap tumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Ntang SR)






