Berita  

Jembatan Cikacepit, Warisan Kolonial yang Menolak Dilupakan Waktu

Oplus_131072

Pangandaran, JurnalMediaNetwork – Di balik lebatnya kawasan hutan di Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, berdiri sebuah saksi bisu sejarah perkeretaapian Indonesia.

Jembatan Cikacepit, peninggalan era Hindia Belanda, hingga kini masih kokoh membentang di atas lembah sebagai bagian dari jejak jalur kereta api Banjar-Cijulang yang pernah menjadi urat nadi transportasi dan ekonomi wilayah selatan Jawa Barat.

Bangunan bersejarah tersebut menjadi salah satu destinasi yang menarik perhatian pecinta sejarah, fotografer, hingga penjelajah alam. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati Terowongan Cikacepit atau Terowongan Hendrick yang memiliki panjang sekitar 105 meter.

Warga Kalipucang, Muhammad Fuad Darin, mengatakan Jembatan dan Terowongan Cikacepit merupakan warisan infrastruktur kolonial yang memiliki nilai sejarah tinggi sekaligus menawarkan panorama alam yang masih terjaga.

“Suasana di kawasan ini sangat sejuk dan asri. Selain menyimpan sejarah panjang, nuansa masa lalu masih terasa kuat ketika berada di sini,” kata Fuad saat mengunjungi lokasi, Jumat (5/6/2026).

Baca Juga :  Evaluasi PAD Banjar Triwulan I, Wali Kota Dorong Optimalisasi Pendapatan

Menurutnya, pengalaman menyusuri terowongan memberikan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Lorong yang membelah bukit tersebut seakan membawa wisatawan menelusuri perjalanan waktu menuju masa kejayaan perkeretaapian di wilayah Priangan Timur.

Setelah keluar dari terowongan, pengunjung akan disambut pemandangan rangka baja Jembatan Cikacepit yang membentang di atas lembah. Meski tidak lagi digunakan untuk operasional kereta api, struktur jembatan masih terlihat kokoh dan menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Secara historis, Jembatan Cikacepit merupakan bagian dari jalur kereta api Banjar-Cijulang yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Jalur sepanjang sekitar 82 kilometer itu dirancang untuk mendukung distribusi hasil perkebunan dan kehutanan dari wilayah selatan Jawa Barat menuju pusat perdagangan.

Pembangunan jalur tersebut menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan. Kondisi medan berupa perbukitan, jurang, dan kawasan hutan membuat para insinyur harus membangun berbagai infrastruktur pendukung, termasuk Jembatan Cikacepit yang memiliki panjang sekitar 290 meter dengan ketinggian mencapai 38 meter dari permukaan tanah.

Baca Juga :  HP Ilegal dan Narkoba Jadi Sorotan, Lapas Banjar Tegaskan Zero Tolerance

Pada masanya, jembatan ini dikenal sebagai salah satu jembatan kereta api terpanjang di Indonesia. Keberadaannya tidak hanya mendukung distribusi hasil bumi seperti karet, kopra, dan hasil hutan, tetapi juga memperlancar mobilitas masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Jawa Barat.

Namun seiring berkembangnya transportasi darat pada dekade 1980-an, aktivitas kereta api di jalur Banjar-Cijulang terus menurun hingga akhirnya resmi dihentikan pada 1 Februari 1982.

Meski rel kereta tidak lagi beroperasi, Jembatan dan Terowongan Cikacepit tetap berdiri sebagai penanda penting sejarah transportasi Indonesia. Perpaduan nilai historis dan keindahan alam menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi yang layak dilestarikan sekaligus dikenalkan kepada generasi mendatang.

Keberadaan Jembatan Cikacepit menjadi pengingat bahwa Pangandaran pernah memiliki jalur kereta api strategis yang berperan besar dalam mendukung aktivitas ekonomi dan konektivitas wilayah pada masanya. (Agus Giantoro)