JurnalMediaNetwork – Ribuan orang berselawat saat Maulid, tetapi setelah usai, jejak Rasulullah saw. justru hilang dari kehidupan? Pertanyaan ini mungkin terasa tajam. Namun, kecintaan kepada Rasulullah saw. terlalu agung jika hanya berhenti pada meriahnya majelis, lantunan selawat, dan kisah yang mengharukan. Cinta semestinya meninggalkan jejak dalam kehidupan nyata.
Maulid Nabi Muhammad saw. dapat menjadi momentum memperkuat kecintaan, mempelajari sirah, dan meneladani akhlak beliau. Berbagai kegiatan Maulid tahun ini menunjukkan antusiasme umat. Namun, Maulid akan kehilangan substansi jika selesai bersama acara.
Allah Swt. berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’”(QS. Ali ‘Imran [3]: 31). Ayat ini menegaskan bahwa cinta memiliki konsekuensi: ittiba’, mengikuti Rasulullah saw.
Maka, pertanyaannya bukan sekadar, “Sudahkah kita berselawat?” tetapi “Sudahkah petunjuk Rasulullah saw. hadir ketika kita menghadapi persoalan kehidupan?”
Kita menyaksikan berbagai persoalan di sekitar: perundungan di sekolah, kekerasan terhadap anak, keluarga yang rapuh, penyalahgunaan media digital, perilaku konsumtif, ketimpangan ekonomi, hingga maraknya informasi palsu dan ujaran yang mudah memecah hubungan sosial.
Teknologi berkembang cepat, tetapi kedewasaan dalam menggunakannya tidak selalu mengikuti. Informasi melimpah, tetapi kebenaran sering kalah oleh sensasi. Materi semakin dikejar, tetapi ketenangan belum tentu ditemukan.
Persoalannya bukan semata kurangnya aturan atau imbauan. Kita juga membutuhkan standar nilai yang kokoh untuk menentukan apa yang benar, baik, dan bertanggung jawab. Di sinilah ajaran Rasulullah saw. relevan.
*Solusi Islam Dimulai dari Manusia*
Rasulullah saw. tidak membangun perubahan hanya dengan memperbaiki perilaku yang tampak. Beliau membangun manusia dari akarnya, yakni akidah.
Di Makkah, para sahabat dibina dengan keyakinan kepada Allah dan kehidupan akhirat. Dari keyakinan itu lahir kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan.
Inilah yang relevan untuk hari ini. Anak yang memahami bahwa Allah Swt. selalu mengawasi tidak hanya takut kepada kamera atau hukuman ketika melakukan perundungan. Pengguna media sosial yang memahami pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. akan lebih berhati-hati menyebarkan fitnah, aib, atau informasi yang belum terverifikasi.
Allah Swt. berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Artinya, pendidikan Islam tidak sekadar mengejar kecerdasan akademik. Ia membentuk manusia yang memiliki tujuan hidup dan kesadaran moral karena terikat kepada aturan Allah Swt.
Akidah kemudian diwujudkan dalam kepribadian Islam. Jujur ketika tidak diawasi, amanah ketika diberi tanggung jawab, menjaga lisan, menghormati sesama, dan menjauhi yang haram bukan sekadar tuntutan etika, tetapi bagian dari ketaatan.
Nilai ini perlu ditanamkan dalam keluarga dan pendidikan. Orang tua tidak cukup hanya membatasi gawai anak; mereka perlu membangun daya tahan iman, membiasakan dialog, memberikan teladan, dan mengenalkan sirah Rasulullah saw. sebagai pedoman menghadapi persoalan.
Masyarakat pun perlu membangun budaya saling menasihati dalam kebaikan. Ketika ada kemungkaran, penyelesaiannya bukan dengan persekusi atau main hakim sendiri, melainkan melalui dakwah, pendidikan, mekanisme hukum, dan tanggung jawab sosial. Namun, persoalan publik tidak seluruhnya selesai dengan kesalehan individu.
Islam juga memberikan aturan untuk mengatur kehidupan bersama. Dalam ekonomi, politik, pendidikan, keluarga, pergaulan, keamanan, hingga pengelolaan kepentingan publik, Islam memiliki prinsip dan hukum yang bertujuan menjaga kemaslahatan manusia serta mencegah kerusakan.
Inilah keteladanan Rasulullah saw. dengan membina individu, membangun masyarakat, dan menghadirkan aturan yang menjaga kehidupan. Allah Swt. berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Maka, mempelajari sirah tidak cukup mengetahui apa yang terjadi pada masa Rasulullah saw. Kita perlu menangkap pelajarannya untuk menjawab persoalan hari ini.
Ketika anak terpapar konten negatif, jawabannya bukan hanya larangan, tetapi iman, pendidikan, pendampingan keluarga, lingkungan yang sehat, serta perlindungan melalui aturan yang tegas dan adil.
Ketika kejujuran melemah, jawabannya bukan sekadar slogan, tetapi pembinaan takwa dan sistem aturan yang mendorong amanah serta mencegah kecurangan.
Ketika keluarga rapuh, jawabannya bukan hanya nasihat, tetapi penguatan fungsi keluarga, pendidikan agama, perlindungan hak, dan aturan yang menjaga kehormatan keluarga.
Ketika kesenjangan ekonomi melebar, Islam tidak hanya mengajarkan orang kaya bersedekah, tetapi juga memiliki konsep kepemilikan, distribusi kekayaan, zakat, dan pengelolaan harta publik agar kekayaan tidak berputar pada kelompok tertentu.
Inilah mengapa Rasulullah saw. harus dipelajari secara utuh. Beliau bukan hanya teladan akhlak, tetapi pembawa risalah yang mengajarkan bagaimana manusia menata kehidupan dengan petunjuk Allah.
Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta kepada Rasulullah saw. semestinya membuat kita semakin mengenal sirah, memahami sunnah, memperbaiki diri, menguatkan keluarga, peduli terhadap masyarakat, dan berusaha menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan. Maka, setelah panggung dibongkar dan selawat berhenti dari pengeras suara, jangan biarkan kecintaan kepada Rasulullah saw. ikut selesai.
Sebab, ukuran keberhasilan Maulid bukan seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa jauh risalah Rasulullah saw. menjawab persoalan kita dan seberapa dalam teladannya mengubah kehidupan untuk kita ikuti dan laksanakan.
Maulid bukan sekadar mengingat Nabi saw. Maulid adalah panggilan untuk kembali menelusuri jejaknya, dari iman, pembinaan, keluarga, masyarakat, hingga aturan kehidupan yang diterapkan oleh negara. Sebab, umat yang benar-benar mencintai Rasulullah saw. tidak cukup hanya menyebut namanya; ia berusaha menjadikan risalahnya sebagai petunjuk jalan.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Pegiat Literasi)






