JurnalMediaNetwork – Anak sekolah bukan sekadar calon pekerja. Di balik seragam mereka, ada masa depan umat yang sedang dibentuk. Pernyataan ini terasa relevan ketika pendidikan vokasi di Jawa Barat semakin diarahkan untuk terhubung dengan dunia industri.
Pada 1 September 2026, sebanyak 32 SMK Negeri di Jawa Barat menandatangani kerja sama dengan 64 perusahaan lintas sektor. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperkuat kompetensi siswa agar lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Fakta ini diberitakan RRI pada 3 September 2026.
Sehari setelahnya, Wawai News memberitakan gagasan integrasi SMA dan SMK dengan industri sejak kelas 10. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa tenaga teknis perlu dipersiapkan sejak awal agar kompetensinya lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Dari sisi praktis, langkah tersebut tentu dapat dipahami. Sekolah perlu membekali siswa dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan. Dunia kerja pun membutuhkan tenaga yang kompeten. Jarak antara pembelajaran dan kenyataan di lapangan memang perlu diperkecil.
Namun, ada satu pertanyaan yang rasanya sayang jika dilewatkan: ketika kebutuhan industri menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pendidikan, siapa yang memastikan pendidikan tidak kehilangan tujuan besarnya?
Pertanyaan ini bukan penolakan terhadap kerja sama sekolah dengan industri. Justru sebaliknya, ini refleksi agar kolaborasi tersebut ditempatkan secara proporsional. Sebab, pendidikan tidak berhenti pada kemampuan seseorang mengoperasikan mesin, membuat aplikasi, memperbaiki kendaraan, atau memenuhi standar pekerjaan tertentu.
Semua itu penting. Namun, manusia tidak hanya membutuhkan keterampilan untuk bekerja. Ia juga membutuhkan ilmu untuk memahami kehidupan, akhlak untuk menentukan sikap, dan nilai untuk membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang merusak.
*Solusi Islam*
Islam memberikan perhatian besar terhadap ilmu. Allah Swt. berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ayat tersebut memberi gambaran bahwa ilmu memiliki kedudukan yang jauh lebih luas daripada sekadar nilai ekonomi.
Rasulullah saw. pun bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan semestinya tidak berhenti pada angka penyerapan lulusan ke dunia kerja. Lebih jauh, perlu dilihat apakah pendidikan mampu melahirkan manusia yang beriman, berilmu, terampil, berakhlak, dan mampu memberi manfaat.
Di sinilah negara memiliki peran penting. Negara tidak cukup hanya memastikan lulusan tersedia untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknis. Negara juga perlu memiliki visi pendidikan yang jelas: membangun generasi unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memiliki kepribadian yang kuat.
Industri dapat menjadi ruang belajar. Perusahaan dapat menjadi mitra praktik. Teknologi dapat menjadi sarana pengembangan kompetensi. Semua itu baik dan diperlukan.
Jika hari ini industri membutuhkan keterampilan tertentu, sekolah perlu menyiapkannya. Namun, pendidikan juga harus membekali siswa dengan kemampuan berpikir, belajar, beradaptasi, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan yang mungkin bahkan belum muncul hari ini.
Dengan begitu, lulusan tidak hanya siap mengisi posisi yang tersedia, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan kemanfaatan baru bagi masyarakat. Akhirnya, integrasi SMK dengan industri layak dipandang sebagai langkah yang perlu terus dievaluasi secara jernih. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan memastikan arah pendidikan tetap utuh. Sebab, sekolah bukan sekadar tempat menyiapkan tenaga kerja. Sekolah adalah tempat menyiapkan manusia. Dan kualitas sebuah bangsa pada akhirnya sangat ditentukan oleh manusia seperti apa yang berhasil dilahirkannya.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Pegiat Literasi)






