Berita  

Sumur Mengering, Warga Banjarharja Pangandaran Harus Jalan 3 Kilometer Cari Air

Warga Desa Banjarharja saat mengambil air bersih dari bantuan Pemerintah. Foto: Ntang SR/JMN

Pangandaran, JurnalMediaNetwork – Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Sebanyak 250 kepala keluarga di Desa Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari setelah sumur warga mengering.

Kepala Desa Banjarharja Herman mengatakan, kekeringan paling dirasakan warga di Dusun Sindangsari dan Dusun Sindangkasih. Warga di dua dusun tersebut kini harus mencari sumber air hingga ke lokasi yang berjarak sekitar tiga kilometer dari permukiman.

“Sekitar 250 KK di dua dusun terdampak kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Herman.

Menurut dia, sebagian warga mengambil air dari sumur milik warga lain yang masih memiliki persediaan. Sebagian lainnya terpaksa memanfaatkan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  SMPN 7 Banjar Juara Piala Kapolres 2026, Tekuk SMPN 4 dengan Skor 2-0

Jarak yang cukup jauh membuat warga harus mengalokasikan waktu dan tenaga lebih banyak hanya untuk mendapatkan air. Kondisi tersebut semakin terasa karena kebutuhan air tidak hanya untuk minum, tetapi juga memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Herman mengatakan bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pangandaran terkadang datang untuk membantu warga. Namun, distribusinya belum berlangsung setiap hari.

“Alhamdulillah, terkadang ada bantuan air bersih, meskipun tidak setiap hari,” ujarnya.

Ketika bantuan tiba, warga harus mengantre untuk mendapatkan air. Sementara pada hari-hari tanpa distribusi bantuan, mereka kembali mencari air secara mandiri dengan menempuh perjalanan sekitar tiga kilometer.

Baca Juga :  Sudarsono Pastikan Bantuan Sosial Tepat Sasaran hingga Tingkat Desa

Herman berharap bantuan air bersih dapat terus disalurkan selama musim kemarau masih berlangsung. Menurut dia, ketersediaan air menjadi kebutuhan mendesak bagi ratusan keluarga yang terdampak.

“Selebihnya, warga harus mengambil air dari sumur dan sungai yang ada di Desa Banjarharja,” kata Herman.

Kondisi tersebut menggambarkan dampak kemarau terhadap kehidupan masyarakat di wilayah perdesaan. Ketika sumber air di sekitar permukiman mengering, warga tidak memiliki banyak pilihan selain mencari sumber air yang masih tersedia meski jaraknya cukup jauh.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memastikan distribusi air bersih berlangsung secara berkala agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kekeringan. (Ntang SR)