Banjar, JurnalMediaNetwork — Upaya memperkuat pemasaran hasil pertanian lokal terus dilakukan para petani di Kota Banjar. Salah satunya melalui kegiatan Pasar Petani Berdaya, yang menghadirkan berbagai produk hasil pertanian langsung dari kebun untuk dipasarkan kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi para petani untuk memperkenalkan sekaligus menjual hasil pertanian secara langsung kepada konsumen. Produk yang ditawarkan merupakan hasil produksi petani lokal sehingga masyarakat dapat memperoleh bahan pangan yang masih segar dengan membeli langsung dari sumbernya.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Banjar, Abdul Holik, mengatakan Pasar Petani Berdaya melibatkan petani dari berbagai wilayah di Kota Banjar.
“Yang dijual pertama adalah hasil-hasil dari petani Kota Banjar, yang fresh dari kebun,” ujar Abdul Holik.
Menurutnya, para petani yang ikut dalam kegiatan tersebut berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Nengsari, Pakaruman, Banjarsari, serta wilayah Kecamatan Banjar. Mereka tidak berjalan sendiri, tetapi bergabung melalui berbagai kelompok dan organisasi yang selama ini menjadi wadah para petani.
Keterlibatan tersebut mencakup KTNA, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), hingga Kelompok Wanita Tani (KWT). Mereka bersama-sama mengambil bagian dalam kegiatan Pasar Petani Berdaya sebagai salah satu upaya memperluas akses pemasaran produk pertanian lokal.
Abdul Holik menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat penting bagi petani maupun masyarakat. Bagi petani, pasar ini menjadi ruang untuk memasarkan hasil produksi secara lebih dekat kepada konsumen. Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut memberikan alternatif untuk mendapatkan produk pertanian lokal yang masih segar.
Selain itu, keberadaan pasar petani diharapkan dapat membantu memperpendek rantai pemasaran. Dengan pemasaran yang lebih dekat antara petani dan konsumen, hasil pertanian lokal diharapkan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
Abdul Holik berharap Pasar Petani Berdaya tidak hanya menjadi kegiatan sesaat. Ia menargetkan kegiatan tersebut dapat digelar secara rutin setiap bulan sehingga keberadaannya benar-benar memberikan manfaat berkelanjutan bagi para petani.
“Harapannya kegiatan ini akan terus kami lakukan setiap bulan, minimal setiap hari Rabu, yaitu Rabu pertama,” katanya.
Pemilihan Rabu pertama setiap bulan juga memiliki alasan tersendiri. Menurut Abdul Holik, hari tersebut dinilai baik untuk mengawali kegiatan. Selain itu, waktu pelaksanaan pada awal bulan dinilai cukup strategis karena bertepatan dengan momentum masyarakat, khususnya para ASN, menerima penghasilan bulanan.
“Ketika awal bulan, ASN otomatis sudah padat gajihan. Mudah-mudahan dengan ASN sudah menerima gaji, mereka bisa langsung membeli produk fresh dari petani,” ujarnya.
Momentum tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk-produk pertanian lokal. Para petani pun memiliki kesempatan lebih besar untuk menjangkau konsumen secara langsung tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur pemasaran yang panjang.
Pasar Petani Berdaya juga menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat agar semakin mengenal dan mencintai produk hasil pertanian Kota Banjar. Dengan mempertemukan petani dan konsumen secara langsung, hubungan antara produsen dan pembeli dapat terbangun lebih dekat.
Ke depan, keberlanjutan kegiatan tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat sektor pertanian di Kota Banjar. Tidak hanya menjadi tempat transaksi jual beli, Pasar Petani Berdaya diharapkan berkembang menjadi ruang promosi produk lokal, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan kesejahteraan para petani.
Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin, hasil pertanian dari berbagai wilayah Kota Banjar diharapkan semakin mudah dikenal masyarakat dan memiliki pasar yang lebih luas. Dengan demikian, produk yang dihasilkan dari kebun petani lokal tidak hanya dikonsumsi masyarakat sekitar, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari penggerak ekonomi daerah. (Ucup)






