JurnalMediaNetwork – Kita sedang menyaksikan sesuatu yang menarik: manusia menciptakan mesin agar pekerjaan menjadi lebih mudah, lalu mulai khawatir karena mesin itu berkembang terlalu cepat. Barangkali yang perlu diperiksa bukan hanya mesinnya, tetapi juga cara kita memahami kemajuan.
AI hadir dengan wajah yang menjanjikan. Ia membantu membaca data medis, mempercepat penelitian, mengolah informasi, menerjemahkan bahasa, hingga menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu. Tidak sedikit persoalan manusia yang terasa lebih ringan berkat teknologi ini. Namun, setiap kemudahan selalu membawa pertanyaan tentang batas.
Pada 28 September 2026, lebih dari 20 peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, menerbitkan kajian mengenai kemungkinan intelligence explosion. Mereka menyoroti perkembangan AI yang semakin mampu mengotomatisasi pekerjaan penelitian dan pengembangan AI. Jika proses ini terus meningkat, kemajuan AI dapat berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan masyarakat untuk mengimbanginya.
Para peneliti tidak mengatakan bahwa skenario tersebut pasti terjadi. Justru ketidakpastian masih cukup besar. Namun, karena dampaknya dapat sangat luas, mereka menilai kemungkinan tersebut layak dipersiapkan sejak dini. Di sinilah persoalan AI menjadi lebih dari sekadar persoalan teknologi.
Selama ini, kemajuan sering kali identik dengan sesuatu yang lebih cepat, lebih canggih, lebih efisien, dan lebih kuat. Ukuran seperti itu memang penting. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: lebih cepat menuju ke mana? Lebih canggih untuk tujuan apa? Lebih kuat digunakan untuk kepentingan siapa?
Pertanyaan sederhana ini sering tenggelam ketika manusia terlalu sibuk mengejar kemampuan baru.
Padahal, kemampuan tanpa arah dapat menjadi persoalan. AI dapat membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan penipuan, manipulasi informasi, serangan siber, atau keputusan yang merugikan manusia. Persoalannya bukan karena teknologi memiliki niat seperti manusia. Persoalannya adalah tujuan dan batas yang ditetapkan manusia ketika merancang serta menggunakannya.
Bahkan Yoshua Bengio dalam tulisannya pada 11 September 2026 membahas sejumlah perilaku agen AI yang tidak sesuai dengan tujuan yang ditetapkan, termasuk upaya menghindari pengawasan dan melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Ia menekankan bahwa persoalan tersebut perlu dilihat sebagai masalah alignment, bukan semata-mata persoalan keamanan siber atau regulasi. Maka, perkembangan AI seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi paradigma kita tentang ilmu dan kemajuan.
*Solusi Islam*
Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Justru manusia diberi akal untuk berpikir dan mempelajari kehidupan. Namun, akal tidak dibiarkan berjalan tanpa petunjuk. Ilmu harus diarahkan agar menghasilkan kemaslahatan dan tidak menjadi sarana kerusakan.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.”
(QS. Al-A’raf: 56). Ayat tersebut memberi prinsip yang sederhana, tetapi mendalam. Tidak semua yang dapat dilakukan berarti layak dilakukan. Kemampuan teknis harus bertemu dengan tanggung jawab moral.
Dalam Islam, teknologi sebagai hasil kreativitas manusia dapat dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Karena itu, AI bukan sesuatu yang harus ditolak hanya karena ia baru. Yang perlu diperhatikan adalah tujuan, cara penggunaan, dan dampaknya.
Jika AI digunakan untuk membantu pengobatan, pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat, atau pekerjaan yang bermanfaat, ia dapat menjadi sarana kemaslahatan. Sebaliknya, jika digunakan untuk kezaliman, penipuan, merusak kehormatan, mengambil hak orang lain, atau membahayakan jiwa, kecanggihannya tidak mengubah hukum perbuatannya.
Tantangan ini juga mulai disadari dalam kebijakan nasional. Pada 17 September 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menyatakan bahwa perkembangan AI berlangsung sangat cepat sehingga regulasi perlu memiliki ruang untuk terus disesuaikan. Pemerintah menyiapkan Peta Jalan AI Nasional 2026–2029 dan regulasi etika AI.
Langkah tersebut penting. Namun, aturan teknis bukan satu-satunya jawaban. Masyarakat juga membutuhkan landasan nilai agar ilmu tidak sekadar mengejar kemampuan, sementara tujuan akhirnya dilupakan. Sebab, persoalan terbesar AI mungkin bukan apakah mesin kelak menjadi lebih cerdas daripada manusia.
Persoalannya adalah apakah manusia tetap memiliki kebijaksanaan ketika kecerdasannya sendiri semakin besar. Islam menempatkan ilmu sebagai amanah. Kecerdasan bukan sekadar alat untuk menguasai alam, tetapi sarana mengenal kebesaran Allah dan menjalankan tanggung jawab sebagai manusia.
Maka, kemajuan tidak semestinya hanya diukur dari seberapa jauh teknologi mampu melangkah. Kemajuan juga harus diukur dari seberapa baik manusia mampu memastikan langkah itu tidak membawa kerusakan.
AI boleh semakin cerdas. Tetapi arah kecerdasan tetap membutuhkan nilai. Sebab teknologi tanpa kompas hanya akan membuat manusia bergerak lebih cepat, belum tentu menuju tempat yang benar.
Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd. (Pegiat Literasi)






