JurnalMediaNetwork – Seorang anak bisa memiliki kecerdasan, cita-cita, dan semangat belajar yang tinggi, tetapi langkahnya terhenti hanya karena keluarganya tak mampu membayar biaya sekolah. Ironisnya, ketika pendidikan menjadi penentu masa depan, kesempatan untuk meraihnya masih dapat terhalang oleh keadaan ekonomi.
Peluncuran Program Jabar Sakola (PJS) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Oktober 2026 patut menjadi perhatian. Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada 9 Oktober 2026, program ini menyediakan bantuan SPP sekolah swasta dan kebutuhan personal bagi siswa kurang mampu untuk menekan angka putus sekolah. Sasarannya mencakup siswa SMA, SMK, dan SLB melalui beberapa skema bantuan sesuai kriteria penerima.
Langkah ini tentu dapat meringankan beban keluarga. Namun, persoalan pendidikan tidak selesai hanya dengan membayar biaya sekolah. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah setiap anak telah memperoleh hak pendidikan secara layak, dan apakah pendidikan yang ditempuh benar-benar membentuk manusia yang beriman, berilmu, serta bertanggung jawab?
Bantuan pendidikan merupakan ikhtiar penting, tetapi sifatnya perlu ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab negara yang lebih luas. Ketika bantuan diberikan berdasarkan kriteria tertentu, pengawasan harus memastikan bahwa siswa yang paling membutuhkan tidak terlewatkan. Pada saat yang sama, pemerintah perlu terus mengevaluasi pemerataan akses, mutu sekolah, ketersediaan guru, dan kecukupan sarana belajar.
Jangan sampai keberhasilan kebijakan hanya diukur dari berapa banyak siswa yang menerima bantuan atau berapa angka putus sekolah yang berhasil ditekan. Pendidikan juga harus dinilai dari kualitas manusia yang dihasilkannya.
Terlebih, ketika sebagian pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja, jangan sampai tujuan membentuk manusia berkarakter justru menjadi pelengkap. Keterampilan kerja memang penting, tetapi generasi muda tidak cukup hanya dipersiapkan agar produktif secara ekonomi. Mereka juga perlu memiliki integritas, kepedulian sosial, dan landasan moral yang kuat.
Islam memandang ilmu sebagai jalan menuju kemuliaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Artinya, pendidikan tidak sekadar menjadi jalan memperoleh pekerjaan, tetapi juga sarana membangun keimanan dan mengembangkan kemampuan untuk memberi manfaat bagi kehidupan.
Pendidikan adalah Amanah Negara
Rasulullah saw. bersabda, “Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang menjalankan program, melainkan memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi. Dalam perspektif Islam, pendidikan termasuk kebutuhan mendasar yang harus dijamin negara. Kemampuan ekonomi keluarga tidak semestinya menentukan sejauh mana seorang anak dapat mengembangkan potensi dirinya.
Karena itu, negara perlu menjamin pembiayaan pendidikan yang berkelanjutan dan dapat diakses secara merata. Pembiayaan tersebut harus ditopang pengelolaan keuangan publik yang amanah, disertai pemerataan fasilitas, kesejahteraan guru, kurikulum yang bermutu, serta pembinaan kepribadian Islam.
Pendidikan agama dan ilmu pengetahuan juga tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu berpadu untuk membentuk generasi yang memahami tujuan hidupnya, menguasai sains dan teknologi, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Inilah bagian dari upaya melahirkan khairu ummah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 110, yakni umat yang beriman, menyerukan kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Jabar Sakola dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu anak tetap bersekolah. Namun, evaluasi kebijakan perlu melampaui manfaat jangka pendek. Negara harus memastikan bahwa pendidikan tidak hanya tersedia bagi mereka yang memenuhi kriteria bantuan, tetapi menjadi layanan mendasar yang bermutu dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Refleksi ini bukan untuk menafikan ikhtiar pemerintah, melainkan mengingatkan bahwa persoalan pendidikan membutuhkan visi jangka panjang. Program dapat berganti, anggaran dapat berubah, tetapi tanggung jawab membangun generasi tidak boleh terputus.
Sebab, sekolah bukan sekadar tempat menyiapkan tenaga kerja. Sekolah adalah ruang membentuk manusia, menumbuhkan ilmu, menanamkan akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu membawa kebaikan bagi masyarakat. Pendidikan yang sejati bukan hanya membuat anak bertahan di bangku sekolah, melainkan membuka jalan bagi lahirnya generasi khairu ummah.
Penulis : Ummu Fahhala (Pegiat Literasi)






