Banjar, JurnalMediaNetwork – Krisis air bersih melanda wilayah Karyamukti, Kota Banjar, selama sekitar lima bulan. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar 600 kepala keluarga (KK) atau 1.300 jiwa yang kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk meringankan beban masyarakat, Perumda Tirta Anom Kota Banjar bersama Kodim 0613/Ciamis dan BPBD Kota Banjar menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah terdampak.
Bantuan air tersebut menjadi salah satu langkah tanggap untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di tengah musim kemarau yang berlangsung panjang.
Kepala Bagian Hubungan Langganan Perumda Tirta Anom Kota Banjar, Euis Tresna Ekawati, mengatakan jumlah masyarakat yang terdampak kekeringan di wilayah tersebut cukup besar.
“Kurang lebih ada 600 KK, totalnya sekitar 1.300 jiwa yang terdampak,” kata Euis.
Menurut Euis, kondisi kekeringan telah berlangsung sekitar lima bulan. Dalam kurun waktu tersebut, masyarakat mengalami keterbatasan sumber air sehingga membutuhkan pasokan dari luar wilayah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Lamanya musim kemarau membuat ketersediaan air semakin menjadi persoalan bagi warga. Sumber-sumber air yang biasanya digunakan masyarakat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan secara optimal.
Penyaluran air melalui mobil tangki pun dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan dasar sehari-hari.
Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga yang harus menghadapi kekeringan dalam waktu cukup panjang. Air yang disalurkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.
Namun, distribusi air menggunakan mobil tangki dinilai hanya menjadi solusi sementara. Selama musim kemarau masih berlangsung dan sumber air warga belum kembali normal, kebutuhan pasokan air bersih tetap akan muncul.
Karena itu, Euis berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan air bersih di wilayah tersebut.
Salah satu yang diharapkan adalah perluasan jaringan perpipaan Perumda Tirta Anom Kota Banjar agar dapat menjangkau kawasan Karyamukti.
“Harapannya mudah-mudahan Perumda Tirta Anom Kota Banjar bisa masuk untuk jalur perpipaannya ke daerah di situ,” ujarnya.
Menurut Euis, apabila jaringan perpipaan dapat menjangkau wilayah tersebut, masyarakat akan memiliki akses air bersih yang lebih berkelanjutan. Ketergantungan terhadap bantuan air menggunakan mobil tangki saat musim kemarau juga diharapkan dapat berkurang.
Persoalan yang dialami masyarakat Karyamukti menunjukkan bahwa kemarau panjang tidak hanya berdampak terhadap sektor pertanian, tetapi juga langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi warga yang berada di wilayah dengan keterbatasan sumber air, musim kemarau yang berlangsung selama berbulan-bulan dapat membuat aktivitas sehari-hari ikut terganggu. Kebutuhan air untuk rumah tangga harus tetap dipenuhi meskipun sumber air semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat bantuan distribusi air bersih menjadi penting, terutama selama belum tersedia jaringan perpipaan yang mampu menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Kolaborasi antara Perumda Tirta Anom, Kodim 0613/Ciamis, dan BPBD Kota Banjar dalam penyaluran air menjadi bentuk respons terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat.
Namun, bantuan tangki tetap bersifat darurat. Dalam jangka panjang, pembangunan maupun perluasan infrastruktur jaringan air bersih diperlukan agar masyarakat memiliki akses yang lebih pasti.
Dengan sekitar 600 KK atau 1.300 jiwa terdampak, persoalan air bersih di Karyamukti membutuhkan penanganan berkelanjutan. Terlebih, kekeringan telah berlangsung sekitar lima bulan.
Selama kondisi tersebut belum berakhir, distribusi air bersih menjadi salah satu upaya untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Sementara itu, harapan terhadap masuknya jaringan perpipaan Perumda Tirta Anom menjadi perhatian penting untuk solusi jangka panjang. Jika terealisasi, akses air bersih diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bantuan tangki setiap kali musim kemarau panjang terjadi.
Krisis air bersih yang dialami warga Karyamukti sekaligus menjadi gambaran pentingnya penguatan infrastruktur pelayanan air bersih di kawasan yang rawan kekeringan.
Bantuan mobil tangki dapat menjadi penyangga kebutuhan warga selama kondisi darurat. Namun, bagi sekitar 1.300 jiwa yang terdampak, akses air bersih melalui jaringan perpipaan diharapkan dapat menjadi solusi yang lebih permanen. (Ucup)






