Banjar, JurnalMediaNetwork – Pengalaman Rini Marini, ibu yang sebelumnya menjadi sorotan publik terkait dugaan penolakan pelayanan medis saat mengalami pecah ketuban dan tekanan darah tinggi ketika hamil anak kembar, diharapkan menjadi pembelajaran bagi fasilitas pelayanan kesehatan agar kejadian serupa tidak terulang.
Pesan tersebut disampaikan Rini setelah menerima kunjungan tim home care RS Mitra Idaman Kota Banjar, Senin (13/10/2026). Dalam kunjungan itu, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa kondisi Rini beserta kedua bayinya dalam keadaan sehat.
Rini mengapresiasi kunjungan tersebut. Namun, ia berharap perhatian terhadap pengalamannya tidak berhenti pada satu kasus, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Menurut Rini, imbauan itu tidak secara khusus ditujukan kepada RS Mitra Idaman. Ia berharap seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dapat mengutamakan keselamatan pasien, terutama mereka yang membutuhkan penanganan medis segera.
“Harapannya, kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Semua pasien harus mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatannya,” demikian pesan yang ingin disampaikan Rini.
Ia juga menjelaskan bahwa selama ini dirinya telah menjalani pemeriksaan kehamilan di RS Mitra Idaman. Karena itu, ia berharap pengalaman yang menjadi perhatian publik tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan kesehatan ke depan.
RS Mitra Idaman Jadikan Kekurangan sebagai Bahan Evaluasi
Menanggapi polemik tersebut, perwakilan RS Mitra Idaman, Uyun Somantri, menyatakan bahwa setiap kekurangan dalam pelayanan akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan.
Menurut Uyun, evaluasi mencakup seluruh tahapan pelayanan, mulai dari proses pasien masuk, selama menjalani perawatan, hingga pasien diperbolehkan pulang.
“Apabila ada kekurangan, baik dari segi pelayanan maupun hal lainnya, itu menjadi catatan kami untuk meningkatkan pelayanan agar jauh lebih baik lagi,” ungkap Uyun.
Ia menjelaskan, kunjungan home care dilakukan sebagai bentuk perhatian rumah sakit terhadap kondisi pasien sekaligus upaya menjaga hubungan baik dengan Rini Marini dan keluarganya.
“Kami berharap ke depan tetap menjadi bagian dari keluarga besar Mitra Idaman,” ujarnya.
Pihak rumah sakit berharap pengalaman tersebut menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta mencegah persoalan serupa kembali terjadi.
Keselamatan Pasien Harus Menjadi Prioritas
Meski kondisi Rini dan kedua bayinya dilaporkan sehat saat kunjungan, hal tersebut tidak serta-merta menjawab persoalan mengenai kronologi dan kesesuaian pelayanan medis dalam kejadian sebelumnya.
Karena itu, evaluasi secara objektif tetap penting untuk memastikan setiap tahapan pelayanan telah berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama dalam menangani pasien dengan kondisi yang berpotensi membutuhkan penanganan segera.
Selain ketepatan tindakan medis, komunikasi antara tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga juga menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan.
Komitmen evaluasi yang disampaikan pihak rumah sakit diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret, sehingga perbaikan pelayanan tidak sekadar menjadi respons setelah polemik mencuat.
Pengalaman Rini Marini menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berkelanjutan. Keselamatan pasien, ketepatan penanganan berdasarkan kondisi medis, serta komunikasi yang jelas dan terbuka merupakan bagian penting dari tanggung jawab fasilitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat. (Ucup)






